ateisme sebagai permasalahan terminologis

September 22nd, 2008 by trenycedragon

And if there is a God
I know he likes to rock
He likes his loud guitars
His spiders from Mars
- Smashing Pumpkins -

Bagi beberapa orang, gemerlap ‘ateisme’ bertabur kapsaisin. Terlalu pedas! Negativitas membuncah bagai bunga listrik dari tiap fonem dan suku kata dalam terma tersebut. Setan, kafir; ateisme adalah borok luka saat anak panah filsafat yang beracun menusuk jiwa (akal, barangkali… namun, mari gunakan istilah ‘jiwa’ agar nyambung jika bicara masalah agama yang seringkali dipakem ‘tanpa akal’).

Sejarah Ringkas

Ateisme di zaman modern digambarkan dengan apik oleh Achdiat Kartamihardja dalam romannya, “Atheis”. Hasan si santri jatuh cinta dengan Kartini, si kebarat-baratan yang berteman dengan hippie Leninis, Rusli. Terbuai dengan gaya hidup bebas yang ditawarkan ketakbertuhanan, Hasan membuang ‘salat’ dan ‘anti-zina’ sehingga menjadi individu yang ‘merdeka’. Di era pasca-proklamasi, ‘kemerdekaan’ merupakan kredo sekaligus ekstase dalam asa politik maupun individual. Dimotori antara lain oleh ideologi Marx, ateisme merupakan konkretisasi dari kritik panjang terhadap zaman industrialisasi dan kolonialisasi yang menghasilkan ketidakadilan dalam sistem kelas sosial. Bebas dari penjajahan, bebas dari feodalisme; bebas dari penjajahan dan feodalisme Tuhan juga; dan ateisme merupakan panti rehabilitasi kaum proletariat dari kecanduan buntu-berpikir gara-gara agama. Atau setidaknya, begitulah di zaman modern.
Ateisme di zaman modern juga dikatalisasikan oleh momentum-momentum megaspektakuler dalam dunia sains. Perkembangan pesat sains, diawali oleh Revolusi Industri di Inggris, terus menghasilkan terobosan-terobosan baru seperti penemuan berbagai macam vaksin, eksplorasi ruang angkasa, pengembangan pesat dalam teknologi nuklir, penemuan polimer raksasa, dan berbagai penemuan sains lainnya baik dalam ilmu eksak maupun terobosan sosial lainnya misalnya dalam ilmu antropologi dan politik. Semangat ini merupakan langkah galaktik menuju ‘dunia baru’; sebuah lompatan besar kebudayaan yang seakan membakar vivasitas kiblat-kiblat pemikiran besar – menuju dunia ‘baru’ yang jauh lebih ‘tercerahkan’ atau ‘Aüfklarung’. Pemikiran-pemikiran besar yang terasionalisasikan (salah satu titik terbesarnya adalah Descartes dengan slogan terkenalnya “Cogito Ergo Sum” yang memusatkan kebenaran pada zona terukur, logis, dan rasional) adalah akademi yang tak lagi dipatron oleh agama (gereja) lalu mulai mengejar Tuhan secara empiris. Scientifically speaking, begitulah di zaman modern.

Bagaimanapun, sebagaimana yang diutarakan oleh Bambang Sugiharto, menuju tahun-tahun terakhir dekade pertama abad 21 ini adalah menuju zaman yang post-sekular sekaligus post-religius. Hampir semua ideologi besar runtuh, disebabkan baik oleh munculnya pemikiran tandingan yang mencincang habis pemikiran sebelumnya, misalnya pemikiran dekonstruksi dalam filsafat yang menggebrak metanaratif yang sudah ajeg dalam masyarakat; disebabkan oleh permasalahan sosial politik tak-berujung yang semakin lama semakin menguras emosi, misalnya konflik Israel-Palestina; ataupun oleh gabungan interconnected dari keduanya. Institusi agama besar terlihat tidak dapat mengakomodasi perkembangan-perkembangan baru dalam zaman dengan caranya yang masih bertahan menggunakan tradisi doktrinal kuno yang seringkali terlihat sangat tidak relevan dengan denyut kehidupan masa kini. Seringkali, malah institusi agama sendiri yang menjadi agen diseminasi kekerasan baik secara emosional maupun fisik. Institusi agama kemudian termagnetisasi, secara ekstrem, menuju dua kutub yang berbeda – ketidakpuasan masal terhadap agama yang cenderung bergerak post-religius; di sisi lain kumpulan orang-orang agamis yang defensif terhadap agama, cenderung ortodoks dan konservatif, seringkali terlihat bergerak semakin dekat menuju fanatisme dan ekstremisme.

Ateisme yang merupakan bagian dari gaya hidup sekular (agama tidak sebagai prioritas) tidak juga dapat memberikan jawaban baik secara filosofis maupun secara pragmatis. Battlecry ateisme, ‘Tuhan tidak ada’, gagal dibuktikan secara empiris (sebuah kondisi yang bahkan lebih ironis lagi karena seringkali ateisme bersembunyi di balik rasionalisme empirik sebagai pusat kebenaran). Dalam sains, paham ‘sains-untuk-sains’ dianggap biang kerok yang menyebabkan munculnya kebiadaban seperti bom nuklir ataupun senjata biologis. Komunisme, yang dianggap sangat berdekatan dengan ateisme, gagal membangun ‘kerajaan rakyat’-nya yang makmur sehingga di satu sisi menjadi pukulan yang cukup telak juga bagi ketidakpercayaan-terhadap-Tuhan. Ateisme menjadi doktrin yang kering karena tidak dapat memberikan solusi bagi dimensi spiritual, dunia yang beyond-physics, dan juga masalah-masalah humanisme; salah satu alasan untuk timbulnya gaya berpikir post-sekular.

***

Secara terminologis, ateisme berasal dari prefiks a (tanpa); kata theos (Zeus, dewa, Tuhan); dan kata isme yang berarti paham. Sehingga, ateisme berarti paham tanpa Tuhan – paham ketanpaTuhanan. Bahasan sentral dalam ateisme adalah mengenai hakekat ‘Tuhan’ dan bagaimana ‘Tuhan’ mengejawantah di dunia fisik, khususnya dunia manusia, yakni dalam bentuk agama. Secara garis besar ada tiga layer utama yang menjadi poros utama pertanyaan-pertanyaan filosofis dalam ateisme: pertama, apakah Tuhan ada atau tidak; kedua, sifat-sifat Tuhan; dan ketiga, fungsi Tuhan dan bagaimana agama menjadi piranti Tuhan di muka bumi. Tulisan ini akan menilik secara ringkas garis besar dari ketiga bahasan ini dan menggugat masalah terminologis yang menggerogoti ateisme pada akhirnya.

Ketiadaan Tuhan

“Tuhan tidak ada! Aku ateis!” Kalimat klise yang bombastis ini biasanya merupakan akhir dari ketidakpuasan yang panjang baik terhadap institusi maupun doktrin agama; kulminasi dari renungan eksistensial yang menyertainya. Pernyataan tersebut sekaligus juga merupakan awal dari pembantahan sistemik yang mulai diluncurkan sebagai respon terhadap pernyataan tersebut, baik oleh kaum (sok) teis yang berada di sekitar si peneriak maupun dari dalam konsiens (sebut saja jiwa, batin; sebut kalbu bak Titi DJ, atau apalah) si peneriak sendiri. Pembantahannya berbunyi seperti ini: “Mana? Coba buktikan bahwa Tuhan TIDAK ada.”

Aturan logis yang digunakan dalam pernyataan ini adalah frasa Latin argumentum ad ignorantum, yang berarti bahwa sebuah premis tidak terbukti salah hanya karena tidak (belum) bisa dibuktikan benar. Saat kaum ateis mengatakan Tuhan tidak ada karena tidak ada pembuktian yang menyatakan demikian secara pasti, secara logis penarikan kesimpulan seperti ini tidak terjustifikasi. Tuhan tidak ada saat Ia memang terbukti tidak ada.

Dalam bukunya “The God Delusion”, Richard Dawkins mencoba mendorong beberapa pembuktian bahwa Tuhan tidak ada. Beragam teori diajukan, seperti ide mengenai ‘megaverse’ dari Susskind (hal. 146) mengenai konstanta-konstanta (bilangan tetap) yang mengatur jalannya alam semesta dan menjadi faktor determinan dalam segala bentuk yang tercipta dalam semesta ini, yang menyanggah konsep intelligent design. Lebih jauh, ia mengkritik cara pembuktian Tuhan oleh kaum teis (dalam konteks ini, gereja) yang menurutnya terlalu evasif (dengan selalu menyatakan bahwa pembuktian Tuhan takkan bisa dilakukan menggunakan nadi-nadi sains) dan subjektif (berdasar pada pengalaman spiritual seseorang yang sifatnya personal alih-alih universal). Filsuf ateis lainnya, Ludwig Feuerbach, menyatakan bahwa Tuhan tidak lain hanya merupakan projeksi dari keinginan manusia untuk menjadi sempurna. Ia bukanlah sebuah entitas omni (segala-maha) yang duduk di singgasana sentral eksistensi dan menduduki puncak hierarki kekuasaan eksistensial; namun Ia hanyalah atribusi dari apa yang didamba-dambakan dalam fantasi manusia. Ia menjadi fantastis dan manusialah yang membentuknya, sehingga manusia (lebih spesifik, menurut Descartes, adalah ‘akal’) merupakan sentral dari segala sesuatu. Menurut Feuerbach, masalah antara relasi Tuhan-manusia yang demikian adalah teralienasinya manusia dari aktualisasi-diri optimal yang mampu ia lakukan. Manusia tidak lagi mampu bergerak sedekat-dekatnya menuju kesempurnaan karena seluruh atribut baik sudah dipindahkan ke entitas lain (Tuhan) dan secara psikologis manusia tidak lagi berinteraksi dengan ambisi menuju kesempurnaan (yang menurut Feuerbach harusnya menjadi bahan bakar majunya peradaban).

Meminjam kacamata seorang eksistensialis-murni, klaim-klaim ini bermasalah. Apa yang dicoba dibuktikan dalam argumen-argumen ini bukanlah perihal tidak-adanya Tuhan, melainkan error of logic yang inheren dalam sifat atau atribut Tuhan menurut beberapa kelompok beragama. Dawkins mengkritik konsep intelligent design yang memercayai sebuah entitas kompleks yang membuat segala macam kehidupan di bumi tanpa proses evolusi, mampu melihat segalanya, mengetahui segalanya, dan serba-bisa; sementara Feuerbach juga berkutat dengan sifat ‘omni’ yang dimiliki Tuhan. Inilah kritik Karl Marx terhadap analisis Feuerbach: bahwa tenet sentral ateisme ‘Tuhan tidak ada’ sama sekali tak terbukti, saat apa yang dipermasalahkan malah atribut apa yang Tuhan miliki.

Jika boleh dikatakan demikian, deisme (deism [n]; deist [prep]) adalah ‘cabang’ dari ateisme yang mempercayai eksistensi sebuah entitas suprafisis dengan intelegensia tertentu sehingga bisa menciptakan alam semesta, namun entitas ini tidak mengambil pusing dengan menjawab doa, mengatur nasib dari ciptaan-Nya, atau mewahyukan firman. Secara eksistensial, deisme tidak dapat dikatakan selaras dengan ateisme karena masih mengakui adanya entitas superfisis tertentu yang (bisa saja) dinamai Tuhan.

Namun, bahkan ateis murni seperti Dawkins pun ternyata masih menyebut deisme sebagai ‘watered-down atheism’ (hal. 18). Dilihat secara naïf, hal-hal ini dapat dikatakan inkonsisten satu sama lain, karena deis, sebagai bagian dari populasi ateis, menerima probabilitas adanya eksistensi ‘Tuhan’. Jika demikian, apalah yang tersisa dari ‘ateisme’ jika ternyata paradigma eksistensialnya ambivalen seperti ini?

***

Keluhan Ateis terhadap Konsep Teisme

Masalah yang dikemukakan oleh para ateis terhadap para teis biasanya merupakan masalah mengenai sifat-sifat Tuhan. Secara doktrinal, kaum teis mencampuradukkan premis ‘Tuhan ada’ dengan premis atributif seperti ‘Tuhan Segala-Maha’; ‘Tuhan menentukan nasib dan menjawab doa’; dan ‘Tuhan menciptakan surga dan neraka’. Ateis menganggap Tuhan yang kontradiktif merupakan doktrin sampah. Skeptisisme bergulir saat Tuhan dikisahkan dapat ‘marah’ saat manusia berbuat tidak ideal (padahal, kalau Ia maha-tahu harusnya Ia sudah bisa memastikan dari jauh-jauh hari bahwa manusia ini akan berbuat seperti itu di masa depan, sehingga aneh sekali jika ia mengeluarkan reaksi ‘marah’ seolah-olah terkejut dan kesal karena apa yang terjadi tidak seperti apa yang Ia harapkan). Frustrasi dan kemarahan menggelegak saat Tuhan diposisikan sebagai momok yang menghitungi kesalahan manusia dalam bulir-bulir dosa dan mengancam manusia dengan penyiksaan abadi (kontradiktif dengan dua premis: 1. Tuhan harusnya maha-penyayang; dan 2. Tuhan menciptakan manusia secara tak-sempurna dan pasti berbuat salah. Aneh sekali jika hukuman kemudian diciptakan untuk menghukum suatu sifat yang inheren).
Sifat-sifat Tuhan biasanya merupakan doktrin, dogma, kanon – secara hiper-sarkastik, kita sebut ‘dongeng anak-anak’ – yang disampaikan oleh institusi-institusi agama, khususnya institusi agama monoteistik turunan agama Abraham (Judaisme, Kristianitas, dan Islam). Sifat-sifat Tuhan – baik Tuhan sebagai superdesainer yang membentuk seluruh ciptaan yang dapat kita amati sekarang di alam semesta ini, Tuhan sebagai hakim agung yang memenjarakan orang dalam neraka dan memberi kebahagiaan dalam surga, ataupun sifat Maha-Tahu dan Maha-Mengawasi-Nya – merupakan usaha sinkronisasi wavelength ilahiah ke dalam kemampuan perseptif masyarakat awam; dengan kata lain, aplikasi agama. Dari beragam ateis yang pemikirannya paling menonjol dalam sejarah, biasanya aplikasi agama inilah mereka kritik – mulai dari kritik Marx terhadap agama sebagai represi politis untuk mempertahankan dominansi kaum feudal; kritik Feuerbach yang menilai buruknya projeksi sifat-sifat manusia kepada suatu entitas lain yang mengalienasi manusia dari sifat-sifatnya sendiri; dan juga masalah Dawkins dengan klaim intelligent designer dan mukjizat-mukjizat (miracle) yang diwartakan institusi agama besar, khususnya gereja.

Eksistensialisme vs. Fungsionalisme

Kembali ke masalah eksistensi Tuhan. Inilah pertanyaan filosofis abadi yang menghantui benturan teis vs. ateis: terlepas dari segala sifatnya, apakah Tuhan itu ada atau tidak? Apakah ada suatu entitas suprafisis yang, dalam mengikuti istilah Kant, berinteraksi dalam level noumena (di luar persepsi/observasi inderawi)? Haruskah ateisme membuktikan ketidakberadaan entitas ini untuk memosisikan secara ajeg sudut pandangnya terhadap Tuhan?

‘Tuhan itu ada atau tidak’ merupakan diskusi yang tak mungkin terjawab. Saat pertanyaan ini terjawab, maka, menginterpretasi apa yang dikatakan Nietzsche, itulah saat kematian Tuhan dan keruntuhan seluruh kompleksitas semesta; karena inilah momen saat manusia menemukan ujung alam semesta. Teis tidak akan dapat membuktikan keberadaan Tuhan, ateis pun tidak akan dapat membuktikan ketiadaan Tuhan. Sehingga, pertanyaan ini bukanlah menjadi problem sentral yang dihadapi, dalam konteks ini, ateis. Konsep ateisme tidaklah berkutat pada usaha logis untuk mencari celah pada eksistensi Tuhan, namun cenderung melihat dan mengkritik bagaimana Tuhan dipersepsikan oleh doktrin agama. Sehingga, tidaklah adil jika ateis diserang dan dituntut untuk membuktikan bahwa Tuhan ‘tidak ada’; sebagaimana demand ateis yang memaksa teis memperlihatkan manifesto Tuhan secara fisik adalah absurd.

Sayangnya, rancunya batas antara eksistensi Tuhan dan fungsi Tuhan selalu dimanfaatkan kaum teis dalam hampir setiap diskursus mengenai ateisme. Argumen ‘life-jacket’ yang berbunyi antara lain ‘lebih baik percaya Tuhan, karena kalau Ia ada, kita akan selamat dari siksa-Nya; kalau Ia tidak ada, toh tak ada ruginya juga percaya’ sangat sering di-abuse sebagai alasan yang (sok) logis mengenai teisme. Argumen ‘muasal moralitas’ juga sering digunakan, yang menyatakan bahwa manusia tidak akan bisa bermoral kalau tidak ada manfaat untuk moralitas (baik) dan hukuman untuk perbuatan amoral (buruk). Saat para ateis mencoba menghantam balik argumen-argumen ini, rongrongan klasik mulai dimainkan: ‘coba buktikan dulu bahwa Tuhan tidak ada, baru boleh mengkritik agama’.

***

Permasalahan Terminologis

Negativitas yang ditujukan terhadap ateisme – baik dalam bentuk moderatnya yakni argumen frontal, bentuk ekstremnya yakni anarkisme hiper-teisme/anti-ateisme, dan bentuk subtilnya yakni paradigma awam – sangatlah tidak proporsional. Ateis dianggap tolol karena berkoar tanpa pembuktian yang jelas mengenai ketiadaan Tuhan. Faktanya, eksistensialisme adalah losing fight, karena verba ‘membuktikan’ yang operatif dalam penentuan sifat ada/tidaknya suatu zat merupakan verba yang menuntut adanya kejelasan empiris. ‘Membuktikan’ adalah produk dari rasionalitas – sistem yang bekerja hanya di dunia fisik.

Salah satu sebab fragile-nya posisi ateisme adalah istilah yang ia gunakan untuknya sendiri. Seperti telah dibahas sebelumnya, kata ‘ateisme’ secara sederhana berarti paham ketanpaTuhanan, sebuah kata yang mengandung elemen eksistensialistis yang kuat. Hasilnya, ia sulit sekali melindungi dirinya dari pertanyaan-pertanyaan eksistensialis yang stasioner (walau tak absurd).

Saya tidak ingin berpikir simplistik dan menyatakan bahwa interpretasi leksikal terhadap kata ‘ateisme’ berhenti pada level yang terlalu harfiah; terlalu eksistensialis. ‘Ateisme’ sendiri dapat diinterpretasikan menjadi paham mengenai ketanpaTuhanan; paham mengenai konsep Tuhan yang tak lagi berfungsi dalam penerapan sosialnya; atau paham mengenai ketidakpuasan terhadap sesuatu yang disebut ‘Tuhan’ oleh agama (berikut segala atributnya yang carnival-esque) dan pencarian terhadap alternatif deitas ‘Tuhan’ yang tidak terlalu doktrinal. Ateisme mengejawantah menjadi fraksi-fraksi seperti panteisme (‘Tuhan’ adalah hukum alam dan ketetapan/konstan semesta) ataupun neo-politeisme. Walaupun ‘ateisme’ adalah terma yang bisa diperlakukan secara cukup lentuk, namun penggunaan kata ‘ateisme’ yang ambigu berisiko inherennya pembuktian eksistensialis yang berujung pada redundansi: sehingga ‘ateisme’ bak menggerogoti dirinya sendiri.

‘Ateisme’ adalah terminologi yang kurang fair. Masalahnya adalah, ateis tidak berhadapan melawan ‘teis’ [saja]. Yang dihadapi oleh ateis adalah ‘pemeluk agama’. Mungkin lebih tepat jika kita menyebut ateisme sebagai ‘a-institusi-agama-isme’ – yakni paham yang tidak setuju akan definisi Tuhan menurut agama terinstitusikan yang penuh doktrin. Secara maknawi, istilah ini kiranya tepat untuk melukiskan ketidakpuasan para ateis dengan institusi agama. Hanya saja, terma ini tidak dapat berdiri sejajar dengan ‘ateisme’, mungkin disebabkan permasalahan bahasa Latin. Prefiks a- dan sufiks –isme digunakan dalam bahasa Latin, sehingga dibutuhkan suatu kata benda dalam bahasa Latin untuk merepresentasikan ‘institusi agama’.

Permasalahan lain muncul ketika bentuk Latin dari ‘institusi agama’ sulit ditemukan. Hal ini dikupas secara komprehensif dalam buku The Meaning and End of Religion (1962) oleh Wilfred Cantwell Smith, salah satu dari buku-buku studi agama yang dekonstruktivistik. Menurut Smith, penggunaan kata ‘religious’ sekarang harusnya sepadan dengan kata ‘pietas’ dalam Yunani kuno yang berarti ‘saleh’. Padahan, kata benda dari ‘religious’, yakni ‘religion’ tidak berarti ‘piety‘ atau kesalehan, melainkan ‘(institusi) agama’. Lebih final lagi, Smith menyatakan bahwa bangsa Yunani kuno berpikir tentang dewa-dewa dan filosofi dunia, namun mereka tidak pernah berpikir soal ‘religio’.

Istilah yang dapat dikoinkan mungkin adalah ‘areligionisme’ (namun istilah ini terdengar sangat alien dan absurd). Istilah lain yang lazim digunakan, yakni ‘agnostisisme [Kb]; agnostik [K.ganti]’; pun tampaknya memiliki diferensiasi makna yang cenderung peyoratif, karena kata tersebut merupakan derivat dari kata gnosis yang berarti pengetahuan. Menyebut paham anti-institusi agama sebagai paham ‘ketidaktahuan’ rasanya tidak cukup representasi dan tidak lagi menjadi label yang tepat. Mungkin ‘sekularisme’ merupakan terma yang cenderung mendekati makna yang ; sayangnya terma ini cenderung lembut dan terlalu happy-go-lucky dalam penggunaannya dan tidak merupakan suatu antitesis frontal terhadap institusi agama (sekularisme cenderung menyatakan bahwa agama ‘kurang penting’, alih-alih menyatakan bahwa fungsi Tuhan ‘tidak penting’).

Dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan suatu terma baru yang kongruen dengan ‘anti-institusi-agama’. ‘Ateisme’ sebagai meriam utama terhadap kanon-kanon agama terinstitusikan sudah menjadi basi oleh fermentasi waktu. Sebagai sebuah istilah, ia tidaklah lagi ideal karena memiliki terlalu banyak elemen eksistensialis (dalam hal ini mengenai Tuhan) dan terlalu sedikit elemen agama. Sejauh ini, tulisan ini belum dapat membentuk sebuah istilah pengganti yang berbalut conviction. Namun, hal ini cukup penting untuk disemai sebagai bahan pikiran, karena dirasa sangat krusial untuk membangun level baru dalam kritik terhadap ortodoksi dan intoleransi banyak bagian institusi agama.

a sickened start towards the days of the Ramadhan

September 1st, 2008 by trenycedragon

It’s always this time of the year when karaoke rooms decide to close down. Sober restaurant entrepreneurs hang curtains – sometimes cute with embroidered-and-lace ends, sometimes as materialized-from-nowhere as semi-plastic – along their gigantic windows; completely nullifying the windows’ usual function as an etalage. It’s always this time of the year when dried dates suddenly blend in with tiramisu or ice cream or pudding. The streets are jammed at 5:30 PM, and adzan Maghrib gains instant popularity. It’s always this time of the year where Arabic paraphrases are catchy advertisement taglines; the new prime time is 3 in the morning; and female celebrities wrap their hazel-dyed, asymmetrical salon-cut hair in pashminas.

Being consistent with what they’re notorious for, FPI raids the road. Often, in the middle of the day, they smash some roadside warteg that still serves food. A glint of night life from any discotheques or night clubs is a sign that the building is a local jumrah site. I wonder what happened to all the self-control that fasting’s supposed to be teaching about. Strangely, in this – if I may call it this way – season of Ramadhan, the troopers parading in the anti-hedonistic march is not only formed by extremists, but also by Average Joe-s – the crowds at large. There’s a considerable crowd flocking the local mosque at 8 PM. People reacts more positively to religious preaches. The Qur’an seems like a more down-to-Earth option of activity compared to any other time of the year. Seen from the surface, this time of the year, the religious lifestyle seems to go up a notch.

The gloss of ‘a more religious lifestyle’ sounds intoxicatingly sweet. Though so, the awe that struck me every time this point of the year approaches never ceases. I’m awed by the rituals that keep on being repeated year after year after year. The fasting started from being a personal elementary-school-kid achievement, now more of an anorexic antic. The taraweh started from being an elementary-school-kid obligation, now a festival-esque cacophony. The buka-puasa started from being a grateful moment, now a fashionable way of saying ‘feast’ or ‘dinner’. All the special prayers, the waking-up in the still of the night – all the rituals… it has never manifested into anything but a physical grating of trans-fat. The spiritual sensation might be quite unique at the first ten years of doing these Ramadhan rituals, but after numerous da-capo’s, any melodies which previously are spiritual just fall flat.

Personally speaking, Ramadhan comes at a terrible moment this year. In the name of the hope of gaining weight, I’m starting to have some cheeks now. Now I’m facing a month of religiously-obligatory starvation that poses a threat of me losing up to five kilograms for the next month. Can I afford it? No. So besides from being spiritually arid, the classic rituals of Ramadhan may challenge my already-distressing physical state (which descriptively means being caged at a stagnant 45-kgs with protruding knees, wing-like shoulderblades, and wrists no bigger in diameter than a baseball bat - only with less density).

So I wonder what will this year be like. Last year was an experimentation in-and-out of rituals. Would this year be a 100% ritual-free for me? If not rituals, what then? I’m not sure yet. Perhaps I will put on my glasses and scrutinize deeper the dynamics of spirituality’s sociocultural manifestations that people perform especially during Ramadhan. What does the community normally define as a spiritual action? What would be the benchmark of a better spirituality? It can be really intriguing, and my resolution is to find out these areas that tend to be overlooked, and have at least a clearer answer at the end of the month. Perhaps. Let’s see what these three days come up with. Any advices will be appreciated.

Meanwhile, let’s enjoy waking up at 3, eat accordingly, and embrace the mystique ambiance a dawning day never fails to deal. Let’s reap at the Lebaran discounts given by any local department stores; it’s usually my rare chance to buy a heap of brand-new outfits without damaging my bank account as much. Let’s cell-text or send post-its of sincere-apologies and harness the power of saying ‘don’t-lie-you’re-fasting’ in any enjoyable, friendly tête-à-tête’s… they can be quite laughable usually (no sarcasm intended).

Bathe a Bit of Jesus’ Touch through “I Wish You Well”

August 25th, 2008 by trenycedragon

As interesting as the Bible may be, my attempts of reading the stories have always been halted by the almost-indestructible hyper-archaic textual construction. The thy-s, thou-s, all the metaphors with huge historical trackbacks… I gave up deciphering the codes a long time ago. Albeit so, it actually doesn’t make me any less religious compared to how I’m supposed to be, since I still treat myself into a healthy helping of religious gospels and meditation – a beautiful injection of spirituality through the vines of music.

“I Wish You Well” is the track last in queue of Mariah Carey’s highly anticipated new album, E=MC2. The album itself is a formation of Mariah Carey halfheartedly trying to adjust with a more contemporary vibes. Despite still having the undeniable diva vocal, most of the RnB and hip-hop flavored tracks on the album felt a bit detached and lifeless. “Touch My Body”, albeit being easy listening, is just a flatter version of “Dreamlover” or “Fantasy”; an “It’s Like That, Y’All” with a less hardcore hip-hop beat and without Snoop Dogg. Having a considerable portion of Biblical verse inspirations, maybe God’s grace is a part of the last track’s success, as Mariah went totally into her vocal element in this number.

***

Often some bravado/naïveté-equipped contestant on American Idol attempted songs made popular by diva recognizable-by-their-first-name. Take Celine, Whitney, Mariah, Christina, or Whitney; many of these contestants end up with a slaughter, both for the song they sang as well as themselves. Just as recent as early 2008, a season-8 contestant Asia’h Epperson hauled inadequate votes after struggling in comparison with, consecutively, a Celine and a Whitney. Almost unanimously, internet polls at americanidol.com concludes that diva songs pose a serious threat for anyone brave enough to attempt it.

I initially thought that all this diva-singing talk is a slight overreaction. There were numbers like “My All”, “That’s the Way It Is”, or “The Voice Within” which is definitely a tall order, but won’t it be easily forgotten when Whitney belts something like “Whatchulookinat” or Mariah tries to look as daunting as a poodle in albums like The Emancipation of Mimi? I guess so.

This regression of diva character is the perfect moment when “I Wish You Well” comes in. Mariah definitely reasserts her prowess in belting a soulful, piano-acoustic song. She reminds people that she’s still one of the best singers in the world, and she can’t help but awe people with what she has to offer.

Musically, the song is a reminiscence of Mariah’s soul-blasting debut like “Vision of Love” and “Vanishing”, the latter being arguably one of the most difficult song to sing for its complex melody as well as a frightening vocal range. The mixture of “I Wish You Well” remains simple: Mariah + church-choir backing-vocals + piano. It starts with a softer verse, then upping herself into a changing-chord, classic-gospel flavored bridge, and suddenly, the 7th octave voice came yelling out of nowhere. The middle part of the song is filled with similar verses with the opening parts of the song, only more intense and assertive. The last part of the song is more like a bluesy-soul-pop ad-lib. In between, Mariah shrieks, literally, and filled the background of her own powerhouse vocal with wraithlike 8th octave (or so the rumor says) voices. Siren-like, I’d say; I really don’t want to be her larynx when she’s doing that.

Into those superb vocal plays, Mariah infuses a lyric heavily referring to the Bible. She manages to do this as literal as an “Examine John chapter 4 verse 4” or “Check Proverbs 19:29 Don’t Cry”. The abundance of quotation – curiously half-a-step to a full-mast Lauryn Hill revival – is almost strange. These helps from The Gracious seem to be important in the lyric’s story, which is telling how Mariah has the strength against people that scorn her harshly. Ha, perhaps people like me and how I love to criticize her ‘emancipation of Mimi’ (which is, by the way, a disgraceful album title just by the way it sounds).

The combination of these two elements forms a mildly-Pentacostal four-and-a-half minutes. In “I Wish You Well”, Mariah redoes a self-strengthening number similar to her “Can’t Take That Away”; only this time more with a religious funk featuring her reverend, and of course, JC. The vocal complexity and interesting lyrics renders this song stunning and hard-to-get-bored-with. She’s definitely in her area. It’s just great to listen to the classic feel that had skyrocketed Mariah Carey into where she is right now. While being religious (a fact which helps me with the lack of understanding of the Bible that I suffer from), “I Wish You Well” is also being a nostalgia to Mariah Carey doing nothing but just being impressive.

the art teacher: gaily haunting

August 20th, 2008 by trenycedragon

At a malicious 20° C, the night winds in Bandung can be pretty vicious.
Surely not as vicious as those in subtropical countries, but still
harsh according to Indonesian standards. Escorted by such companions, I
was strolling hastily along a main street at 11 PM, hurrying to
approach the warmth of a good warm-watered face-washing and fluffy
blankets at home.

Along the walk, the muted rustle of the canopy of leaves above, from
time to time, curtained the dark sky I gazed upon. With the dim
light-bulbs installed along windows and verandas of houses I passed by
– their incandescence felt as strange as mechanically-still fireflies –
I really can’t help but be philosophically melancholic.

As all the mental tumble towards the valley of memories start to took
pace, it surely doesn’t help when the Zen Stone plugged into my ears
whispers Rufus Wainwright’s “The Art Teacher”. It was almost midnight;
the gust literally IV-ed sheer cold into my marrows; houses and fences
all looked shrouded in mist and ghostly – it’s a perfect scene for a
metaphysical creature to appear. A ghost. Whatever that is. And it did.
That Wainwright’s particular piece was the ghost. It was haunting. It’s
haunting almost in every aspect.

***

The 3:51-long number starts with an echoing rag piano played in obscure
chords. Wainwright’s raspy vocal enters the fray and starts to put
those gloomy, retrospective melodies into place. The echoing piano,
which was simply ectoplasmic, never stops until the end – it was
emphasized by a tender tuba strum in the interlude, after which the
song gets into an even weirder-noted bridge.

While the song remained in a grim-fashioned melody, the lyrics surely
aggravate the song’s murk. Wainwright, claiming the storyteller’s POV
as ‘just a girl then’, chants an almost-obsessive longing for a
seemingly full-of-life, bright-hearted art teacher – that type of
scruffy, simple, life-passionate guy that everybody likes. While it’s
easier to rely to Wainwright’s rough baritone all the way than to
believe in the whole ‘I was just a girl’ claim, the story then unfolds
into a boy, possibly withdrawn and artsy, falling for his art teacher.
The man-to-man romance quality contains the innocence of youth, the
emptiness of uncompromising circumstances, an unerring passion. It’s
very indie-movie like, arguably comparable to downtown Paris at winter
in the movie Les Chansons D’Amour, where bitter cold, smoke, and
grey-hued calendar days were the backdrop of the romantic scene.

***

“The Art Teacher” was clustered with 11 other songs in the album Want
One (2002). I personally think that this album is Wainwright’s most
experimental one, as the track incorporates an unusual spectrum of
musical exploration. It goes from Wainwright’s beautiful attempt on
being a muadzin in the song with a nuance of Palestinian-sunset, “Agnus
Dei”; a challenging piece of deconstruction/satire titled “Gay
Messiah”, which speaks for itself; and “Peach Trees”, a sloppy romance
with 60s-style arrangements that moves in and out of sobriety and
sultrily suggests another very implicit man-to-man romance.

Ultimately, “The Art Teacher” haunts. Despite some totally-off lyrics
that even Wainwright himself stumbles upon singing, this score is
definitely a paint-it-grey piece. It doesn’t take much effort to listen
to, while it’s perfect for a retrospective midnight ambiance. Think
about a soft “Black Velvet” with a New York contemporary soul touch; a
fixated and morose “And So It Goes”.

collection of poetry III

January 22nd, 2008 by trenycedragon

A SEDUCTIVE XENOPHOBIA
a
A prospect of throwing banana boomerangs
at shimmering-skinned trespassers
refers to
a debonair Olympic’s paranoia -
mind’s charming cuddling partner;
a gray-uniformed quasi-solace
of desaturated Harmonia.

a
As skies tumble down upon geographical borderlines,
Bullets spewed
at hints of lazuli-eyed, metal-bodied aliens.
We intend to make the tantalizing croak
of our fields’ grasshoppers and crickets
last within sterilized sanctuary -
with lowest risk of contagious agents possible.

a
How we love our strawberry plains,
guarding them with tornado gates,
Embrace asphalt streets of sexy soil,
and, concludingly: Lord’s reciprocal gratitude
for efforts of purification.

a
———————————————————–
a
I’LL DROP SOME HOLY CANDLES AT MUSPELLHEIM
a
Midgard-dwellers sow evergreens
Bearing light-made tangerines that ripened through
styrofoam drizzles.
Barber’s-pole-colored mint let afloat,
Crucifixes glimmer atop churches
and, among echoing midnight bells,
Batons of wax are lit.

a
Dark-hooded pilgrims,
-ragged linen curtaining their eyes-
Reap mini, Scandinavian flame tails.
Searing tongues crystallized in vials,
as these travelers approach
an ornate door of Valhala-carved orichalcum.

a
A cling; a lift chamber unfolds
The pilgrims enters a descent beneath mantles of frosted earth,
The metal coffin slides down an aged shaft
towards Muspellheim.

a
Stepping out into solid, bone-crunching darkness
and a myriad of dimensional gravity shock,
backdropped by a gale of sonic wildness;
They let loose bottled char-winged butterflies
to feed Leo of the Underworld
reigning ancient fields where stardust has decayed.

a
Carnage immediately rapes
the minute flickers embodying holiness.
They witness it: the slaughtering of light
into sparkless, cave-shattering shrieks.

a
Lift-doors have long betrayed their escape,
They grovel for almighty Odin -
the inventor of eternal years at Muspellheim,
a Christian parole:
piety drenched with irrelevance.

a
a
In inter-existence, I swim the earths back up,
Climbing Yggdrasil’s segregation effortlessly;
Like through screen, a spectator of stellar events -
I brought some mistletoe bonuses for them at the dome of hell
I transcend to vicinity of the darkened winter solstice,
With hopes for a predictable new dawn,
and condoned introduction of this to Earth-sealed pilgrims.

a
———————————————————–
R
FLAMES OF PURGATORY
R
For I have sinned,
R
With bleach dissolved
in buckets of piety juice,
My lover baptized every crevice of my fractured torso;
Its acidic drops tiptoed within,
scorching dry remnants of conscience,
Put blankets of crucifixion over
heavy-lidded corneas.

R
With powdered scripts
of millennia-aged testaments,
Around my limbs He wrapped papyri;
Acerbic scent of dehydrated photosynthesis
kissed the nostrils -
a mind shackle fixing certainty
on my immobility.

R
Tied to a burning cross,
with nails of mercury penetrating callused palms,
Speckles fell over my linen-skinned entity -
Overburnt cinder a little less temporary.
I was God’s crusade-bearing marionette;

Which, for I have sinned,
drips gasoline through its IV strings,
And purgatory set ablaze.

 R
———————————————————–
R
RAINBOW
a
Vermilion crayons moving in midair,
Scathing the vacant sky with infernal blemishes.
The rest of the oxygen-blue rots
into sheets with flaring orange stains.

a
The crayons titillate the now-colored atmosphere,
In kisses of crimson, deep gray, metallic teal,
subdued black;
Painting a bright but morose kind of iridescence,
Like carbon-oil clouds on a Venus’ day.

a
O, embers enveloped tight in night’s velvety curtain,
the dynamic, magical luminescence,
Live in perpetuation thus light shan’t die.
But as the spectral dusk grows more compact,
Gravity adds.
Dead-star-like colorful crayons rain down,
to its mighty embrace.

R
R
——————————————————————-
all in courtesy of Uphie, 2007/2008. Comments, please?

the potato song

December 18th, 2007 by trenycedragon

I’m trying to write a jovial  jazzy lyric. Its gaiety absorbs inspirations from Nat King Cole’s The Frim Fram Sauce and Shiina Ringo’s Papaya Mango. Might as well be said a copycattish piece. I enjoyed writing it nevertheless.

============================================================

THE POTATO SONG
Uphie/181207:2259

A day on the hairdresser’s,
–Curly or wedged?–
Or have you decided to just go
layered thin?
Give shampoos of tabasco,
–ketchup, too, ‘ll be nice!
Glam potato’s on plate, a scrumptious serve.

Care for some French cuts?
Drenched in olive-scented summer suntan oil,
Or tender, aromatic massages,
–some sprinkles of dill–
To have potato fried or mashed, that’s your call!

But one thing’s certain
Gotta have it boiled and cookin’
To kiss away its raw bitterness;
As to me, just be warm and gentle, the amorous caresses,
Then I ain’t no more a rooty veggie you would have to peel…

D’you feel like bakin’ me, with dollops of cheddar cheese?
Or grill classic-style,
–rosemary titillating my unsheathed flesh–
Potato’s steaming hot; devour, lick, and munch.

======================================================

Does anybody feel that this piece is somewhat too naughty and seductive? In the heat of the moment it just seem really right (the unedited piece contains even more sexually explicit words… I just don’t know how that could happen without me embarrassing the hell out of myself). But nevertheless, I enjoyed the playfulness.

Do you?

Please comment. Thx in advance.

vitus; taxidermia

December 13th, 2007 by trenycedragon

Vitus: A Realist’s Version of Richie Rich/Home Alone.

Film keluarga seperti Richie Rich ataupun Home Alone tentunya menarik untuk ditonton. Film jenis ini menghadirkan hiburan ringan dalam bentuk humor ‘sopan’ dan kejailan ala anak-anak. Biasanya, film keluarga memang berputar dalam tema ‘anak-anak’. Sebabnya adalah karena genre ‘film keluarga’ harus cocok untuk semua anggota keluarga – para orang tua maupun anak-anak. Tentunya, jika temanya adalah tentang orang dewasa, terkadang banyak terdapat adegan yang belum tepat bagi konsumsi si kecil, misalnya adegan bermesraan ataupun penggambaran kekerasan secara terlalu dramatis.

Vitus, film Swiss yang meraih penghargaan Film Terbaik di Swiss Film Prize dan Undine Awards, menghadirkan sebuah drama yang menarik. Film Vitus bercerita tentang seorang anak bernama Vitus yang memiliki intelegensia super: pada umur 5 tahun ia sudah dapat bermain piano sekelas maestro, pada umur 12 tahun ia jauh lebih pintar dari semua dosennya di perguruan tinggi dan ia bahkan mampu meraup jutaan Swiss-franc dengan cara menganalisis pasar modal lalu menginvestasikan uang kakeknya. Konflik dalam film bercerita mengenai ‘ketidaksempurnaan dalam kesempurnaan’, sebuah paradoks ironis yang sepertinya inheren dalam kehidupan manusia.

Sutradara Fredi M. Murer menghasilkan sebuah drama yang ringan namun penuh oleh gurat filosofis yang subtil. Kehidupan Vitus dalam film ini terasa mengalir, sederhana, dan realistis. Aspek ini disumbangkan oleh kualitas tokoh yang cenderung tiga-dimensional: ibu yang menyayangi anaknya sekaligus berharap sedikit terlalu banyak; ayah yang bersemangat mengenai pekerjaannya dan seringkali agak terlalu mementingkan karir diatas segalanya, Vitus yang bisa melakukan semuanya dengan baik namun bingung karena bosan – emosi tumpah. Plot yang hadir bisa dibilang kontemplatif. Banyak sekali pertanyaan muncul dalam film ini, misalnya tentang rasa kesepian (loneliness), tendensi anak masa awal pubertas/awal masa remaja di mana pengakuan lingkungan sangatlah penting (why can’t I be normal?) dan awal mula ketertarikan seksual – semuanya muncul dalam konteks seorang Vitus yang jenius, menjadi sebuah interaksi paradoksal yang unik sekaligus polos.

***

Dibandingkan dengan film keluarga seperti Home Alone, misalnya, di mana tokoh antagonis dan protagonis sudah jelas sekali perbedaannya, seakan-akan mereka memakai label bertuliskan ‘saya orang jahat’ di antara kedua mata mereka, karakter-karakter ambigonistik dalam Vitus menggambarkan sebuah kenyataan yang jujur sehingga tidak dramatis maupun sinetronistik, dan hal ini tentunya adalah hal yang sangat positif.Home Alone mungkin menghasilkan sesuatu yang slapstick dan menghibur, namun hal ini berhenti sampai disitu. Dalam esensi film sebagai eksplorasi visual, tokoh-tokoh dua-dimensional yang terdefinisikan ini menjadi sebuah mimesis yang direduksi – kompleksitas karakter manusia dilibas dan disederhanakan menjadi seonggok ‘baik’ atau seonggok ‘buruk’. Hal serupa adalah tren, dan mungkin prerekuisit, dalam alur cerita kebanyakan film keluarga yang ingin memunculkan sesuatu yang simpel.

Saya tidak mengatakan bahwa film dengan tokoh-tokoh dua dimensional seperti dalam Home Alone, Richie Rich, Air Bud, Pokémon, 101 Dalmatians, atau film anak-anak lainnya pastilah merupakan sesuatu yang jelek. Hanya saja, kesederhanaan itu berhenti pada suatu titik dan setelahnya hanyalah stereotipe dan pengulangan. Terjadi repetisi penggambaran tokoh yang seringkali terlalu terpaku pada oposisi biner: orang ‘jahat’ adalah orang yang liar, licik, tertawa nyaring, sok kejam, namun bodoh, sementara orang ‘baik’ selalu suportif, tersenyum, muncul/hilang di saat yang tepat dan membolehkan tokoh utama berbuat segalanya. Inilah yang membuat genre film keluarga terasa membosankan – karakterisasi yang sangat biasa dan plot yang mudah ditebak.

Inilah mengapa Vitus merupakan sebuah pilihan yang direkomendasikan. Film ini menghadirkan keringanan sebuah film keluarga tanpa terjebak stereotipe tokoh-tokoh dua-dimensional ataupun stereotipe happy ending. Akting yang prima dan pendekatan yang cenderung filosofis terhadap plot memunculkan sebuah inspirasi. Film ini sederhana, namun tetap dalam konteks realistik sehingga tidak membuat kita mengeluh bosan ataupun mengernitkan dahi saat menonton. Vitus adalah pilihan yang sangat baik untuk dua jam kontemplasi ringan.

————————————————————————————————-

Taxidermia: A Real Surrealistic Haunt

Taxidermia06


Sebuah film dengan cover depan seperti ini pasti langsung menarik perhatian. IMDb.com mencatat bahwa Taxidermia memenangkan tujuh buah penghargaan dalam delapan nominasi; empat di antaranya adalah Cottbus Film Festival of Young East European Cinema, Hungarian Film Week’s Best Actor & Best Supporting Actor, dan Transylvania International Film Festival’s Best Director.

Film arahan sutradara Hongaria György Pálfi ini menceritakan tentang sebuah keluarga Hongaria dalam tiga generasi. Vendel, si kakek, adalah seorang tentara bawahan yang bertugas menjadi jongos untuk seorang letnan dalam konteks Perang Dunia II. Hasrat seksnya yang terpendam memanifestasikan dirinya dalam perilaku surealistik yang dream-like dan sadistik: masturbasi menggunakan api lilin (ber-French kiss dengan api, juga menyemburkan api dari penis) dan ‘memerkosa’ bangkai babi dalam halusinasi bahwa si babi adalah istri sang letnan. Kelak si istri letnan melahirkan anak haram hasil hubungan yang delusional ini: seorang bayi laki-laki berekor babi. Kálmán, si anak, adalah atlet makan cepat yang, lagi-lagi, delusional dan malah cenderung kompulsif. Tentu saja, karena kebiasaan makannya, tubuh Kálmán menggembung seperti balon hingga ia tak ubahnya seonggok agar-agar yang bahkan tak bisa bangkit dari kursinya sendiri. Ia memelihara kucing kontes yang dikurung menggunakan terali besi di ruang TV-nya. Sementara itu, cerita sudah bergeser ke generasi selanjutnya, Lajos, sang cucu, seorang taksidermis (pembuat hiasan kulit binatang). Lajos sering memberi makan kucing ayahnya, seringkali dalam porsi yang berlebihan. Saat membeli makanan kucing inilah ia bertemu pada seorang kasir yang ia sukai, namun tampaknya si gadis sama sekali tidak menghiraukan Lajos. Ayahnya menertawainya soal ini, lalu Lajos bertengkar dengan si ayah yang gembrot dan tak bisa bergerak. Rupanya ia meninggalkan terali besi tempat kucing dikurung tanpa dikunci. Saat ia kembali ke ruangan si ayah keesokan harinya, isi perut ayahnya sudah burai dan ususnya berantakan karena dikerikiti kucing. Lajos, seperti mendapat ilham, mengeluarkan isi perut ayahnya, sama seperti binatang yang isi perutnya ia keluarkan, dan diisi lagi menggunakan semacam serat. Bagai mendapat ilham juga, penolakan ini tampaknya berakumulasi menjadi semacam obsesi akan imortalitas. Klimaks film ini adalah operasi Lajos terhadap dirinya sendiri, seperti dalam gambar ini:

Taxidermia1tr4

Ia menyusun sebuah mesin yang menyuntikkan obat bius, cairan kimia, dan pengawet ke kulitnya, kemudian ia mengoperasi dirinya sendiri dan mengeluarkan semua isi perutnya sendiri menggunakan kedua tangannya. Setelah semuanya selesai, ia kembali menjahit torsonya. Sebagai ‘pulasan’ terakhir, lehernya dipenggal oleh sang mesin.

Film ini mengonklusikan sebuah keabadian: ‘boneka’ ayahnya mempertahankan gemuknya tanpa terbusukkan oleh waktu, sementara torso Lajos menjadi sebuah karya seni: tanpa lengan, tanpa kepala.

***

Taxidermia adalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang menghantui karena menjadi nyata dan ternormalisasi secara visual. Biasanya, mimpi yang paling menakutkan sekalipun memiliki kualitas dream-like yang samar, terputus, seperti air yang menetes. Namun Pálfi seolah merekonstruksi mimpi buruk itu menjadi sesuatu terjadi di kehidupan nyata, dunia fisik, kehidupan sehari-hari – normal. Normalisasi mimpi buruk inilah yang menggambarkan sebuah realitas surealistik yang menghantui. Pálfi bermain dengan, mencomot iceberg Freudian, batas antara id dan ego. Fantasi yang ekstrem namun selalu ada di dasar samudera pikiran, di dalam perut (gut-feeling) – mungkin sekali ekstremitas seperti ini adalah arketipikal dalam setiap manusia, ditarik keluar dan dibiarkan menggantung-gantung di realitas ego (dunia kesadaran serbateratur) yang sebelumnya rapi oleh norma. Sebuah guncangan terjadi.

Pengguncangan konstruksi ego menggunakan konkretisasi id yang di-blow-up ini menghasilkan sesuatu yang secara psikologis sangat kuat; tidak aneh jika Anda pucat setelah menonton Taxidermia. Pálfi, yang juga berperan sebagai co-script-writer di film ini, mungkin terinspirasikan oleh visualisasi-visualisasi radikal lainnya seperti A Clockwork Orange (sangat mungkin diindikasikan oleh close up gambar jeruk di awal salah satu chapter awal). Pengejawantahan fantasi ekstrem menjadi bentuk-bentuk konkret juga dilakukan Salman Rushdie dalam buku kontroversialnya, The Satanic Verses, walaupun, berbeda dengan Pálfi yang mengoptimalisasi esensi vulgar dan monointerpretatif gambar visual, Rushdie mengeksplorasi kata, sebuah image yang lebih abstrak dan konseptual. Mungkin pilihan film-film sureal yang lebih lengkap muncul di genre indie dan film ‘tolakan’ produsen besar karena berada jauh di luar spektrum mainstream, misalnya saja film lokal, Beth. Karena itulah cukup mengherankan juga sebetulnya muncul sebuah film dengan muatan surealisme yang tinggi namun dikepas dalam bentuk film berdurasi 90 menit.

Permasalahan paling besar yang mungkin muncul adalah saat DVD yang Anda beli memiliki subtitle parah yan tidak representasional (seperti DVD yang saya beli T_T), ini akan menyulitkan Anda mengerti alur cerita jika Anda tidak mengerti bahasa Prancis (I think this movie is in French; correct me if I’m wrong, though). Namun itulah resiko DVD bajakan. Di luar itu, tentu saja Taxidermia menjadi pilihan yang wajib ditonton. Pengalaman visual yang dihadirkan menjadi efek kejut yang remarkable. Mungkin film ini membuat Anda mulai membuka forum diskusi dengan fantasi ekstrem Anda yang sebelumnya selalu dirantai di level-level abisal pikiran Anda. Siapa tahu.

paradoks neraka

November 3rd, 2007 by trenycedragon

Imagine there’s no Heaven,

It’s easy if you try…

No Hell below us,

Above is only sky…

“Imagine”, John Lennon

 

 

The Satanic
Verses
(Ayat-ayat Setan) mungkin
adalah classic pertama yang saya
baca. Beberapa tahun lalu, saya pernah membeli Shirley karya Charlotte Brontë namun saat itu saya menyerah
membacanya pada halaman kedua. Dalam membaca The Satanic Verses pun saya berniat mengebut. Saya telah mulai
membaca karya ini sejak Juli 2007, dan bahkan sejauh empat bulan perjalanan
(pergulatan) saya ke dalam ukiran kata Rushdie, saya masih hanya berhasil
membaca sejauh lima puluh halaman dari seratuslimapuluh halaman yang seharusnya
saya tuntaskan. Tidak terhindarkan, memang, karena keelokan kata-kata yang
dipatri dalam warna aneh yang menyelimuti memang selalu mewajibkan
kalimat-kalimat itu, yang ter-print
di kertas HVS dalam font Arial Narrow
ukuran 6 demi penghematan, untuk dibaca dua kali ataupun tiga kali demi
menyerap vivasitasnya.

 

Salah satu kuotasi terbaik yang sejauh ini saya dapatkan
dalam The Satanic Verses adalah
sebagai berikut:

 

“Do devils
suffer in Hell?

Aren’t they
the one with the pitchforks?”

 

Memang paradoksal, tidakkah, jika Satan memang adalah
‘penguasa’ neraka – dengan badan mereka yang berwarna merah karena darahnya yang
terbuat dari magma menggelegak dan sepasang tanduk tinggi, dengan trisula yang
memancarkan api dan menusuk-mengorek tiap jenis kebusukan dari dalam
lapisan-lapisan biji acorn hati
manusia – maka seharusnya Satan adalah makhluk yang sesuai dengan habitat mereka:
Neraka. Untuk itu, berbahagialah mereka di sana, dala
m api yang menyala putih, membakar
daging yang dibensini dosa.

Paradoks ini cukup menarik – membicarakan eksistensi
tentang entitas yang mengadaptasikan warnanya dalam jilatan lidah bara Neraka semudah
bunglon merender pigmen kulitnya menjadi dedaunan yang ia hinggapi. Padahal,
Neraka, dalam pre-conceived notion
yang telah memfosil dalam layer
psikologi fundamental manusia – probably
super-ego – adalah sebuah titik kulminasi semua siksa, derita, dan binasa;
sebuah ultimasi kehancuran yang bahkan dikatakan lebih eternal dari kehancuran itu sendiri. Jika seluruh fobia mengental
dan menggelegak dalam sup Neraka, maka unik sekali jika ada makhluk, serupa si
Satan, yang ternyata mengambil elemen-elemen neraka itu untuk melukiskan dunia
dalam sebuah Gehenna yang baru – sebuah lembah di mana anak-anak Adam
membiarkan tiap molekulnya menguap menjadi abu hitam yang luruh di dalam
kekekalan.

 

***

 

Pertama, mari mencari penjelasan mengapa konsep Neraka
begitu kuat. Neraka ditakuti disebabkan pengaruh genetis. Rumus dasar dari
bentuk dan pola kerja sebuah mesin berjudul ‘manusia’ – psikologis maupun
fisiologis – adalah sang susunan protein yang mengonfigurasikan diri dalam
alel-alel di pita double-helix yang
lucu. Gen memiliki satu program dasar: mempertahankan keberlangsungan dirinya.
Dari program dasar ini, ada beberapa percabangan detail program yang tersusun
dalam arketipikal gen: reproduksi (agar gen senantiasa berduplikasi dan
terhindar dari eksistensi) dan survival (menghindari ancaman yang bisa
mengancam keberlangsungan hidupnya). Program kedua inilah yang menyebabkan gen
begitu takut akan Neraka. Sebab, Neraka adalah representasi dari segala hal
yang mengancam keberlangsungan hidup si gen: kesakitan, siksaan; singkat kata,
kehancuran. Inilah unsur-unsur Neraka yang mengancam gen secara keseluruhan.
Gen takut, maka psikologi pun takut – karena takut adalah atribut psikologis,
bukan fisiologis. Neraka diharapkan menjadi sebuah mekanisme preventif yang
menggunakan ketakutan arketipikal-genetis untuk menjaga agar manusia tetap
bersikap seperti kucing angora yang anggun; duduk manis pada singgasana batu,
salju, dan pasir air si planet biru.

Saat membicarakan mekanisme kontrol yang bersifat
preventif, National Geographic mengajarkan kita untuk selalu mengacu kepada
sebuah gerak ekonomis yang bernama ‘Pellsman’s
Effect
’. Gerak ini melihat efek-efek tidak terduga, seringkali negatif,
yang muncul dalam mekanisme preventif yang populer. Gerak ini muncul dalam
mekanisme negara-negara seperti AustraliaKanada, dan Selandia Baru dalam mewajibkan penggunaan helm demi peningkatan
keamanan bersepeda. Efek langsung dari aturan ini tentunya adalah pengurangan
secara signifikan jumlah kecelakaan cedera kepala yang dialami para pengendara
sepeda. Namun, efek sampingnya, ternyata peraturan ini menyebabkan juga
turunnya jumlah pengendara sepeda di negara-negara tersebut dalam ukuran yang
sama signifikannya – sesuatu yang tidak dibarengi dengan terlihatnya antusiasme
masyarakat pada cabang olahraga lain. Artinya, masyarakat yang sebelumnya
bersepeda, dalam suatu sistem psikologis menjadi tidak lagi bersepeda setelah
adanya peraturan yang mewajibkan pemakaian helm, dan mereka tidak mencari
alternatif olahraga lain. Jelas hal ini buruk bagi kesehatan jantung,
paru-paru, dan otot.

Efek buruk lainnya adalah ternyata, jika pengendara
sepeda berhelm sedang berkendara di jalan raya, mobil-mobil yang lewat ternyata
cenderung lebih mendekat. Saat pengendara tidak memakai helm, mobil-mobil lewat
cenderung berjalan dalam jarak terhadap sepeda sekitar lima meter lebih jauh dibanding saat
pengendara memakai helm. Artinya, para pengendara mobil cenderung lebih awas
terhadap tabrakan saat pengendara sepeda tidak memakai helm. Mungkin
dalam alam bawah sadar si pengendara mobil yang tersirat adalah ‘orang ini
pakai helm kok, jadi ditabrak pun
tidak apa-apa.’

Inilah efek Pellsman – sebuah efek samping negatif
takterduga yang muncul dalam sebuah mekanisme preventif akibat reaksi
psikologis manusia yang justru kontradiktif dengan harapan awal. Ian Miller
adalah peneliti yang melihat dan menguji gerak-gerak ini dalam beberapa konteks
sosial. Miller meneliti kecenderungan kewajiban pemakaian helm dalam olahraga
bersepeda seperti yang telah disebutkan tadi, juga beberapa kasus-kasus lain. Selain
kasus ini, kasus lain terjadi juga dalam pengamanan tutup botol aspirin yang
dibuat kompleks agar sulit dibuka oleh anak-anak; agar anak kecil terhindar
dari keracunan aspirin. Masalahnya, yang terjadi adalah, justru karena tutupnya
sulit dibuka, banyak orang dewasa, misalnya ibu yang sibuk atau orang-orang
setengah baya yang sudah tidak telaten malah kesulitan menutup botol aspirin
sehingga malas menutupnya. Botol yang tidak tertutup justru memudahkan akses
bagi anak-anak ke tablet aspirin. Atau, karena si kemasan dianggap sudah aman,
malah botol ini diletakkan di tempat yang mudah dijangkau bahkan oleh anak
sehingga pada akhirnya keracunan terjadi juga.

 

Saya kira efek Pellsman pun bekerja dalam mekanisme
preventif berupa doktrinasi neraka. Tadinya, diharapkan bahwa dengan dijejali
hukum konsekuensi bahwa ‘jika berbuat di luar koridor moral yang disemen
menggunakan kaligrafi ayat-ayat agamis-tekstual maka akan dihukum dalam sebuah eternal condemnation’, manusia akan dapat
menemukan ketenangan.

Pada kenyataannya, doktrin tentang adanya neraka,
sejauh eksten tertentu, menjadi bumerang dalam pencarian manusia menuju state of solace. Rasanya mengerikan juga
jika setiap langkah yang kita jalani atas dasar ketidaksempurnaan – jubah
fundamental yang menyelimuti setiap manusia – kemudian akan diancam oleh si api
siksa, sebuah entitas yang bermain dalam eksistensi psikologis-ekstrem. Doktrin
neraka memiliki banyak sekali efek Pellsman yang cukup mengerikan, misalnya,
keraguan berkepanjangan disebabkan oleh gaung ‘salah-pilih’ yang tidak pernah,
karena adanya konsep Neraka, menjadi sebuah pilihan. Keraguan tentu saja
menjadi salah satu musuh dalam state of
solace
pikiran, karena toh ketenangan yang stabil seperti permukaan air
akan buyar dan terdistorsi jika didera oleh riak-riak keombangambingan.
Beberapa saat yang lalu, kita menyaksikan tayangan Menjelang Eksekusi Imam
Samudera di Lativi. Menilik dari pengalaman beberapa ekstrimis-fanatis yang ada
di dunia ini seperti pelaku bom Balidsb,
doktrin Neraka bisa menjadi salah satu sebab munculnya ekstrimisme/fanatisme
dalam paradigma suatu individu. Mengapa? Karena ancaman yang diberikan konsep
Neraka begitu hebat, maka tendensinya besar bagi sang terombangambing untuk
pergi ke kutub ekstrem (go to extremes).
Untuk menghindari ekstrem-Neraka, ia pergi ke ekstrem-Surga (kontra-Neraka:
agama, dalil, teks, dsb). Inilah yang akhirnya menghasilkan fanatisme; salah
satu efek (tidak terduga, arguably)
dari doktrinasi Neraka.

Dalam tataran sebab-akibat, sebenarnya pun Neraka
menjadi sesuatu yang paradoksal. Karena, jika pada hakekatnya manusia adalah embodiment dari ketidaksempurnaan,
bukankah agak aneh jika kemudian ketidaksempurnaan itu diberikan punishment? Ini sama saja dengan
menghukum badak karena mempunyai cula, memenjarakan merak karena memamerkan
ekor kipasnya. Hukuman atas sebuah inherensi agaknya terlalu absurd; boro-boro
adil, realistis saja tidak.

Beberapa orang mungkin secara impulsif akan membantah,
“Manusia kan
diberi akal. Inilah justifikasi atas hukuman Neraka yang diberikan pada mereka:
sudah diberi akal kok masih berbuat salah,”. Dalam premis ini, ada dua keanehan
yang terjadi: ‘ketidaksempurnaan’ dan ‘akal’ keduanya adalah sesuatu yang
inheren dalam entitas manusia. Jelas karena keduanya merupakan atribut yang
inheren, yang satu tidak berarti menghindarkan dari yang lain. Adanya ‘akal’
bukan berarti alasan untuk meminta sesuatu yang tanpa-kesalahan, karena adanya
‘akal’ tidak meniadakan pengaruh sifat ‘ketidaksempurnaan’. Keanehan kedua
adalah dengan sifat doktrin Neraka sebagai sebuah mekanisme preventif.
Asumsikanlah, seperti yang dikatakan dalam premis tersebut, akal dapat menstop
kesalahan dari terjadi (‘sudah diberi akal kok masih berbuat salah’ = ‘sudah
punya akal [seharusnya] tidak akan berbuat kesalahan’). Dalam asumsi itu, untuk
apa lagi diperlukan sebuah mekanisme preventif lain? Toh akal sendiri sudah
menjadi sebuah mekanisme preventif.

 

Dalam “Imagine”,
John Lennon menganggap dunia akan menjadi lebih baik tanpa doktrin Neraka. Jika
John Lennon percaya bahwa ia bukanlah satu-satunya orang yang larut dalam
kerangka imajinasinya, terkisah dalam lagu “Imagine”,
ia benar. Setidaknya Richard Dawkins, dalam bukunya The God Delusion, dan beberapa orang yang ketakutan terhadap neraka
berada dalam front-nya Mr. Lennon – the Hell Haters. Mari mencari alasan
mengapa Lennon menceritakan sebuah dunia yang lebih baik tanpa doktrin neraka.
Menurutnya, yang akan terjadi adalah “It’s
easy if we try
,”. Kalimat ini relevan dengan tujuan pencarian manusia
terhadap state of solace. Seringkali,
para tetua bijak yang mengenakan mahkota daun laurel di kepala adalah
orang-orang yang liar pada masa mudanya. Keliaran ini (wildness) merupakan sesuatu yang membutuhkan aspek bravery (keberanian) atau, dalam
kegaulan yang manusiawi, ‘nekat’. Dalam liar, jatuh tak terhindar, memar, lalu
berpusing dalam kontinuasi berlaripenuhsemangat-tersungkurdiaspaltajam.
Berbagai hal seolah terjadi dalam hidup si tetua bijak ini (dalam konteks
modern): drug abuse, puncak
emosionalitas, tekanan ekonomi-politis, promiscuity,
filosofi, dsb – seringkali berbagai hal yang, dalam doktrin Neraka, merupakan
kriteria-kriteria akannya jalar api Penghakiman menghanguskan pembuluh darah si
pelaku. Permasalahannya adalah, dengan segala experience dan pengalaman ini, justru buahnya adalah hikmah –
sejarah – sesuatu di mana learning-by-doing/experiencing
mengejawantah menjadi segregasi antara konsep baik dan buruk; sebuah
pengetahuan tentang hidup. Inilah singgasana state of solace. Analogi yang paling baik mungkin mengenai Adam dan
Eva sendiri, soal bagaimana mereka mengunyah Buah Pengetahuan, yang secara
doktrin memang ‘salah’ dan mereka menjadi patut ‘dihukum’, namun kemudian
ternyata itulah yang memberikan mereka ‘kesadaran’, ‘pengetahuan’, dan
‘kebijaksanaan’. Kasarnya, mungkin dapat disimpulkan bahwa pasutri ini
mempunyai paradigma yang lebih arif saat melangkah di gurun dan cadas planet
Bumi dibandingkan saat mereka bermain di taman Edenyang bidadari-istik. Inilah detriment dari doktrin Neraka: sebuah
pengerangkengan eksplorasi.

 

***

 

Jika dipikir, tentu saja Neraka adalah sebuah konsep, all in all. Seringkali konsep ini
menjebak, begitu nyata, begitu dominan menguasai relung pikiran sehingga
terformulasi sebuah quasi-realitas – imajinasi yang begitu nyata – bahwa Neraka
sungguh-sungguh menjadi menjelma. Seringkali manusia menjadi kalap (contoh
kalap: fanatisme, ekstremisme) disebabkan ketakutan yang begitu hebat terhadap
neraka; juga manusia-manusia pasif yang saking takutnya akan Neraka maka tidak
berani berbuat apa-apa di luar comfort
zone
-nya (sesuatu yang menurut teori kreativitas Getzels-Csikzentmihalyi
mencirikan pasivitas kurang-kreatif).

Padahal, tentu saja imajinasi ini menjadi sesuatu yang
terlalu prematur. Pertama, ketakutan ini sebenarnya berdasar pada sebuah sistem
yang tidak diketahui. Misalnya, apakah benar Neraka adalah sebuah eternitas?
Bagaimana cara menyeleksinya? Adakah hal-hal seperti remisi atau pembebasan
bersyarat? Naik-banding, saat putusan menyatakan masuk neraka ataupun surga?
Bahkan apa parameter baik/buruk pun, yang idealnya menjadi tolok ukur
terjeblosnya satu individu menuju Neraka atau tidak, sangat baur dan relatif.
Sehingga, dalam kebauran sistem ini, sebenarnya bukanlah konsep ini yang
kemudian menjadi dominan. Kedua, imajinasi ini dikatakan prematur dalam tataran
analisis nature. Asumsikan ada sebuah
sistem yang jelas. Dalam konteks ‘Neraka’, sistem ini dijalankan oleh sebuah
Mahakeadilan. Bentuk seperti apakah Mahakeadilan itu tentu saja berada di atas
batas kemampuan cerna otak manusia. Sehingga, konsep Neraka itu sendiri
sebenarnya berada dalam tataran yang mahasempurna dan bermahakeadilan.

Namun asumsi-asumsi ini pun berjalan hanya dalam asumsi
lain, bahwa Neraka adalah nama sebuah tempat.

 

Dalam kelucuannya, ternyata hidup dalam ketakutan
terhadap neraka adalah sebuah siksa. Dengan ketakutan itu, sebuah bola besi
diikatkan pada kaki-kaki manusia yang kecil. Kerangkeng ini adalah biji-biji
subur yang tersemai dan tumbuh menjadi keraguan ‘apa-boleh-ini-atau-tidak
boleh-itu-jika-tidak-nanti-saya-masuk-neraka’. Pohon berduri ‘keraguan’ ini
adalah jelma ular dalam halaman belakang hati kita yang seyogyanya bisa
dijadikan tempat berbaring di bawah payung taman/gazebo dalam mentari yang
hangat dan bayang pohon yang teduh – ‘state
of solace
’. Sehingga, state of solace,
atau ketenangan pikiran, tampaknya tidak akan pernah bisa ada jika doktrinasi
terhadap neraka masih menghantui.

 

 

Ketakutan terhadap neraka adalah siksa kekal. Ketakutan
terhadap neraka adalah Neraka itu sendiri. ***

extinction!

October 18th, 2007 by trenycedragon

 

 

Strange towns’
unknown people

Pass on by as
though in a movie.

Won’t someone
show me the path?

The one
remaining path I’m expected to follow?

– translations of “Tooi Hibi no Nagori”,

Risa Ohki/Nobuo Uematsu: Final Fantasy
Love Will Grow Vocal Collection –

 

 

 

Prologue: Sinetronism

        Saya kira
semua orang berpikiran waras akan berada dalam konsesi bahwa sinetron Indonesia adalah sesuatu yang generally buruk. Dan
saya berada pada mode sarkasme saya yang paling rendah saat mengatakan ini,
karena pada kenyataannya merely
‘buruk’ tidaklah cukup untuk menggambarkan kualitas kebanyakan sinetron yang
muncul di televisi-televisi lokal (for
which reason
Astro atau Indovision sangatlah Para aktor dan aktrisnya tidak layak disebut
aktor karena memang kemampuan berakting mereka sangat tidak memadai (karena
alasan inilah saya tidak akan rela menyebut mereka ‘artis sinetron’ yang
harusnya memiliki arti ‘orang yang memiliki kemampuan artistik [seniman]’,
lebih-lebih, menyebut mereka ‘aktor’, yakni orang yang mampu berakting
[memerankan karakter yang sebenarnya bukan dirinya sendiri], sebut saja mereka
‘pemain sinetron’ – orang yang bermain-main dalam sebuah tubuh berjudul
sinetron, pun intended).

        Mari hujat
sinetron Indonesia lebih jauh lagi. Dialog yang kita lihat dengar hanyalah klise yang memanfaatkan
stereotip dalam masyarakat, misalnya tipikal ‘anak gadis yang dianiaya’, selalu
mengambil latar belakang tokoh pembantu. Profesi ‘pembantu’ selalu di-victimize sebagai epitom dari potret
negatif ‘kampungan’, ‘rendahan’, babuistik, dan miskin. Padahal, jika
dipikir-pikir, memangnya apa yang begitu salah dengan pembantu? Toh bantuan
mereka, yang dibayar relatif cukup oke, valuable
sekali untuk membantu menciptakan kondisi ekuilibrium fisik dalam rumah. Inilah
salah satu contoh eksploitasi sinetron pada apa yang disebut Dubner dan Levitt
sebagai conventional wisdom – sebuah
kepercayaan/paradigma umum yang ada dalam masyarakat walau tanpa bukti tegas
yang teruji secara statistik (paralelisme paradigma ‘pembantu = rendahan’ di
Indonesia adalah paradigma ‘makelar real-estate
= penipu/orang yang terlihat helpful
dan ingin membantu padahal sebenarnya tidak’ di Amerika Serikat atau pandangan
rasistik ‘Afro-amerikan = penjahat’ dan ‘Tionghoa = pelit dan licik’). Dialog
yang konyol, kan, jika tiap-tiap dalam sinetron
Hidayah, misalnya si tokoh utama berkoar ‘untuk apa pakai kerudung, kayak pembantu saja!’ (baca: pakai
kerudung terlihat rendahan dan pembantu itu rendahan – premis-premis yang sangat
asumtif), karena toh tidak pernah dijelaskan/diklarifikasi mengapa/bagaimana
kerudung memberi kesan visual yang ‘rendahan’, mengapa asosiasi pembantu adalah
‘rendahan’, bahkan apa itu ‘rendahan’. Stereotipe pembantu hanyalah sekelumit
contoh kecil dari sekian banyak dialog sampah yang tidak pernah gagal membuat
penonton sinetron yang berpikir mengernyitkan dahi.

            Cerita yang
dipaparkan biasanya tidak masuk akal dan tidak berkontinuasi. Para tokoh di sinetron terasa begitu bodoh, contohnya adalah (klise) saat seorang
tokoh meninggal di rumah sakit. Dalam banyak sinetron, setelah memberikan
pidato akhir hidup yang panjang lebar, si tokoh akan mengejang lalu menghempas
nyawa. Dokter/suster akan datang (seringkali terlihat cukup santai dan datar)
lalu dengan cueknya memeriksa si pasien dan berkomentar, ‘Dia sudah meninggal’,
tanpa ada usaha misalnya menekan dada pasien atau apalah, sedikit usaha yang
menunjukkan reaksi dokter sungguhan yang tidak ingin pasiennya meninggal.
Contoh lain misalnya saat ada polisi yang mengatakan, kepada seorang anak dari
tersangka kasus penggelapan uang, ‘Cara satu-satunya untuk membebaskan ayah
Anda adalah membayar uang ia curi’. Kalimat ini, dilihat dari sudut mana pun
bodoh untuk diucapkan, karena bukannya jika status masih ‘tersangka’ artinya
penyidikan masih berlangsung sehingga bisa saja bukti lain muncul dalam
perkembangan kasus sehingga ditemukan tersangka lain sehingga status tersangka
si ayah menjadi bersih, dan karena status masih ‘tersangka’, maka ‘uang itu
belum tentu dicuri si ayah’? Atau bagaimana jika cara lain bagi si ayah untuk
‘bebas’ adalah maju ke persidangan dan membiarkan hakim menentukan apakah ia
harus membayar ganti rugi ataupun tidak pada si penggugat? Jika terbukti
bersalah dan menjadi terdakwa, bukankah cara lain untuk ‘bebas’ adalah
menjalani hukuman penjara dan mencari remisi?

Dalam
kasus-kasus ini, bukankah ketidakmasukakalan tingkah dokter ‘santai’ dan polisi
‘sok mengancam’ ini menjadi kebodohan dalam cerita sinetron? Belum lagi jika
membicarakan bagaimana absurditas tokoh-tokoh unidimensional: manusia-manusia
yang (selalu) terlampau baik, juga absurditas perubahan seratusdelapanpuluh
derajat tabiat seseorang secara instan (lihat sinetron-sinetron Hidayah yang
sering menampilkan karakter berwatak beringas yang dalam semalam berubah
menjadi pengantin masjid [sok] syahdu yang bersubhanallah ria dan membaca ayat
kursi). Inilah sekelumit dari hal-hal absurd yang secara konstan muncul dalam
sajian sinetron dan, dalam eksten yang lebih jauh dari sekedar ‘menggelitik’,
mengganggu nalar logis secara fundamental, saat dikonsumsi.

 

***

 

The Fun Factors

        Membicarakan
sinetron yang miskin kualitas akan memerpetuasikan gelontoran kritisisme hingga
menjadi air bah yang endless. Untuk
menghentikannya, mari mulai membicarakan topik utama yang ingin saya bahas di
tulisan ini: Resident Evil 3 Extinction, seperti yang telah disugestikan oleh
judul tulisan ini. Setelah diarrhea of
sarcasm
yang panjang dan bertele-tele mengenai sinetron di atas, mungkin
Anda bingung, karena, jika apa yang ingin saya bicarakan adalah RE3 Extinction, maka untuk apa saya
panjang lebar mengkritik Hidayah dalam segmen sebelumnya? Apa relevansi
ketidakmampuan akting Shireen Sungkar, misalnya, jika tujuan saya adalah Milla
Jovovich dan Ali Larter? Mengapa sinetron bisa menjadi sangat klop dengan RE3 Extinction adalah karena kesan utama
saya yang muncul setelah saya melihat aksi sang Project Alice di padang gurun Nevada:
RE3 Extinction adalah sebuah sinetron
yang sangat bagus.

 

Sinetron, jika
didefinisikan dalam tataran konsep, adalah sebentuk tayangan yang bertujuan
untuk menghibur: tidak kurang dan tidak lebih. Dalam klasifikasi seni rupa atau
seni visual, mungkin paralelisme yang tepat untuk sinetron adalah decorative art: benda indah berelemen
estetis yang hanya memiliki tujuan ‘memperindah’ dan ‘menghibur’. Dalam hal
ini, menonton RE3 Extinction pun
tergolong klasifikasi sebagai menikmati sebuah banquet of decoration.

Disebabkan
antipati a priori saya terhadap film pop seperti Resident Evil, saya belum
pernah menonton Resident Evil sebelumnya dan memasuki sinema untuk menonton RE3 Extinction tanpa bekal cerita para
prekuel. Mungkin ada bagusnya juga karena mengontribusikan perspektif movie-watching yang lebih netral (dan,
berada pada sudut pandang yang lebih sarkastis saat menonton film ini; maaf
untuk orang-orang yang duduk di samping dan di depan saya saat menonton atas
semua komplain yang endlessly
mengalir dari bibir saya, pasti cukup mengganggu jika dibisikkan di ruangan
teater yang Dolby-surrounded). Apa
yang saya dapat dalam dua jam saya berada di ruangan tersebut adalah simply hiburan.

Setelah kita
disuguhi tubuh telanjang Jovovich yang terkulai lemas di lantai marmer, film
dimulai dengan aksi Alice (Jovovich) menghindari serangan laser pemotong di
sebuah ruangan kaca yang aneh dan melewati koridor yang penuh jebakan.

Aksi.

        Aksi seperti
ini berlangsung sepanjang film: menghajar zombi, adu tembak, bahkan sebuah
adegan Flame Cloud di mana Alice menggunakan
telekinesis untuk membuat awan api dari flamethrower
yang tidak ter-occupy dan
menghanguskan serangan ribuan gagak. Efek api keren pun muncul seperti lautan
api yang sejenak menutupi langit gurun. Suguhan akrobatik yang mendecakkan
lidah dan ketegangan yang memicu adrenalin – semuanya menyumbangkan hiburan
berbentuk heroisme. Poin ‘aksi yang membangun ketegangan’ menjadi poin hiburan
penting yang berhasil ditampilkan di RE3
Extinction
.

Mengingat film
ini berada dalam genre action/thriller/sci-fi,
maka poin penting kecanggihan teknologi yang ditunjang oleh teknik
komputerisasi visual yang hebat tidak boleh luput. RE3 Extinction berhasil menampilkan ini: masa depan digambarkan
dengan kecanggihan teknologi para gadget
yang serba bikin kagum – ini adalah infrastuktur yang menyumbangkan pilar-pilar
kekerenan sekaligus koagulan yang memberi koherensi dan dimensi pada
logikalitas cerita: segala aksi yang keren ditunjang oleh teknologi yang
ceritanya pada setting tersebut sudah
maju. aksinya cukup menghibur, ceritanya cukup terjelaskan (dengan spirit sci-fi yang menonjolkan kecanggihan
teknologi) sehingga aksi bombastisnya tidak menjadi absurd, dan teknologi itu
sendiri mengundang decak kagum. Misalnya, pada adegan pembuka film yang
memperlihatkan Alice dalam serangan sinar laser: kelincahan gerak Alice dan ketegangan
ancaman laser adalah kombinasi yang sangat menghibur; setting yang terletak pada laboratorium Umbrella di bawah tanah
tidak menjadi absurd karena pada masa itu terjelaskan bahwa teknologi sudah
sangat maju sehingga memungkinkan adanya serangan laser dan segala piranti
jebakan yang memungkinkan, secara infrastruktural, Aluce untuk terekspos pada
ancaman laser dan lainnya; dan ruangan laser yang penuh berisi kaca dan lampu
neon, berinteraksi secara visual dengan laser biru yang bersilangan, adalah sebuah
visual treat yang estetis in its own sense.

 

            Poin hiburan
kedua adalah, sebuah unsur selain ‘bahaya’ yang tidak pernah luput direspons
oleh rangsang-rangsang tercepat dan tertanggap manusia adalah seks. Tentu saja.
Sehingga, menampilkan wajah-wajah yang sedap dipandang menjadi sebuah
keharusan. Tak heran sinetron Indonesia memprioritaskan wajah tampan yang kalau/harus bisa terkuas gurat Kaukasian:
karena semua orang pasti suka melihat orang-orang tampan dan cantik. Begitu
pula dalam RE3 Extinction: wajah
Jovovich yang memang supermodel melukiskan seorang gadis cantik yang memesona.
Tak gagal. Pemain lain seperti Ali Larter, Oded Fehr, ataupun Spencer Locke (K-Mart)
pun tidak gagal untuk membangun nuansa ‘keren’. Bumbui semuanya dengan dialog
yang cerdas, witty, penuh eksklamasi
humor pahit dan manerisme mokeri ala Amerika – thanks to scriptwriter Paul Anderson – jadilah sebuah sajian berisi
orang-orang tampan dan cantik, mengalami hari-hari dramatis, dan mempunyai retort yang tepat untuk setiap kejadian
yang berlangsung: betul-betul keren dan menghibur.

Setelah semua
kejelekan yang saya paparkan mengenai sinetron Indonesia: ketidakmampuan akting
dan parahnya cerita dan dialog, RE3
Extinction
memiliki semuanya dalam kualitas yang baik: akting yang acceptable (setidaknya standar oke untuk
film action – tentu saja tidak
hebat-hebat amat seperti Crouching Tiger,
Hidden Dragon
ataupun Lord of the
Rings
), cerita yang terbangun oke dan menegangkan sehingga menghibur, dan
juga dialog yang cukup baik untuk ukuran film action.

 

Sebuah poin
lain yang ingin saya tambahkan mengenai RE3
Extinction
adalah konstruksi sekuens dalam film yang terasa kental sekali
dipengaruhi oleh sistem permainan Resident Evil di video game. Sekuens-sekuens ini khas sekali: ruangan yang berkoridor,
sebuah battlefield, musuh yang muncul
secara tiba-tiba dan mengagetkan, dan sisanya, berupa obrolan-obrolan pendek
yang terpotong oleh sebuah adegan aksi, adalah filler penyambung cerita yang biasa disebut FMV dalam video game. Misalnya, dalam adegan
pertama, seolah-olah kita mengendalikan karakter Alice dalam permainan Resident
Evil, lalu kita berjalan dalam koridor, mengambil item berupa gaun satin merah, lalu bertemu dengan puzzle berupa laser dan bertemu zombi
dan menghajarnya. Mungkin sudut kamera dan cara pengambilan gambar yang
cenderung berada pada level sejajar-kepala-manusia dan statis sehingga
memperlihatkan karakter-karakter yang bergerak dalam satu ruangan (per-room sequence) menyumbangkan kesan video-game-istik ini.

        Contoh lain
sangat kental terasa pada saat melihat grup konvoi Claire yang diserang
sepeleton zombi di reruntuhan Las Vegas. Adegan ini serupa sekali dengan adegan khas game saat si tokoh utama, dalam hal ini,
Alice, diserang oleh segerombolan zombi lalu si tokoh utama harus dengan pandai
bergerak berkeliling di arena yang ditentukan menghindari zombi sambil
menyerang mereka dengan pistol jarak jauh. Tambahkan indikator HP (health points) dan ammunition counters di salah satu ujung layar, maka menonton RE3 Extinction tiada ubahnya seperti
memainkan sendiri game serupa
menggunakan mesin console, DVD, dan joystick, hanya saja dengan TV layar
lebar. Kesan yang mirip video game
ini dimaklumi ada karena memang RE3
Extinction
adalah film yang diambil dari video game, namun agak sebal juga melihat visual seperti itu
terlalu kental muncul. Sebabnya adalah hilangnya segregasi utama antara membeli
tiket bioskop dan membeli DVD PS2. Namun ini sangat mungkin adalah suatu trik
sinematografik sineas untuk memunculkan efek visual interaktif klasik khas video game sehingga cerita yang
dihasilkan masih penuh aksi tidak terlalu ala drama film layar lebar. Terlepas
dari apakah ini faktor buruk atau baik, sebetulnya identifikasi ini tidaklah
terlalu spesial dan signifikan – toh sutradara Russell Mulcahy berhasil
menjadikan RE3 Extinction penuh aksi dan menegangkan sehingga dapat
dinikmati, sehingga, either way, would do
just as good, IMHO
.

 

***

 

‘Just Fun’ or More than ‘Just Fun’?

            Perbedaan
fundamental antara menjadi sekadar hiburan dan ‘menginspirasikan’ terlihat
dalam film ini. Itulah mengapa saya memasukkan kuotasi dari sebuah lagu Final
Fantasy di awal tulisan. Kuotasi tersebut menjelaskan bagaimana orang-orang kota hanya berjalan lewat
di depan kita ‘as though in a movie
– menyiratkan kekosongan sebuah movie
yang diisyaratkan serupa dengan passer-by
yang melewati kita di trotoar-trotoar. Kekosongan ini tidak dapat menunjukkan
kita ‘the path I’m expected to follow’.
Inilah garis tipis namun tegas antara merely
sebuah hiburan dan sesuatu yang dapat memberikan lebih dari itu, yakni
inspirasi. Beberapa tahun lalu saya pernah berdebat dengan seorang teman saya,
soal film Spiderman, Shrek, dan Lost in Translation. Menurutnya, film cukuplah
menghibur, tanpa harus memberikan suatu ‘konsep’ atau suatu ‘pemikiran’ di
belakangnya; Spiderman dan Shrek adalah kategori yang ‘menghibur’ tanpa harus
berlarut-larut dalam konseptualisasi pasca-menonton yang notabene ‘berat’.
Menurut saya sebaliknya, bahwa sebuah film yang benar-benar prima akan memiliki
suatu ‘so-what?’ setelah film
tersebut selesai. Misalnya, memang saya terhibur dengan segala ketegangan dalam
RE3 Extinction, namun, setelah itu
jika saya bertanya, ‘OK, Alice mempunyai
kekuatan telekinesis, Alice mengalahkan zombi
Nemesis, Alice jago bermain pisau dan pistol. Lalu?’, adakah suatu kontinuasi terhadap proses
ini? Adakah jawaban? Setidaknya, dalam RE3
Extinction
, bukan ini yang menjadi fokus utama. Fokus utama terletak pada
aksi, ketegangan, dan sci-fi. Harus
saya akui, ketiga hal ini terpenuhi dalam RE3
Extinction
.

Hal inilah
juga mengapa saya sebelumnya menjelaskan tentang klasifikasi sinetron dalam
genre ‘decorative art’. Dalam genre
inilah RE3 Extinction, yang saya
sebut sebagai sebuah sinetron yang luar biasa baik, tergabung: sebuah dekorasi
– indah, menghibur, estetis; cukuplah.

Namun, tentu
saja plane apakah suatu film sudah
cukup hanya sekedar hiburan ataukah harus ada diskusi filosofis yang tidak
sepenuhnya ter-detach dari dunia
nyata di mana uang 10000 rupiah untuk membeli tiket bioskop 21 benar-benar
dihasilkan bukanlah sebuah battlefield
yang membutuhkan suatu tumbukan. Keduanya bisa saja berdiri: toh benar bahwa
aspek utama dalam sebuah film adalah menikmati cerita, sehingga ‘hiburan’ atau entertainment/refreshment penting untuk
ada dalam sebuah film yang baik. Namun tidak bisa dinafikan juga bahwa jika
sebuah film memiliki sebuah konsep dan pemaknaan yang kuat di balik festive semata maka film tersebut akan
terlihat lebih lucid dan esensial
bagi kehidupan. Dalam ground ini
misalnya film Lost in Translation yang merupakan keberhasilan dari ekspresi
visual kata loneliness – lanskap
emosionalnya terasa sangat nyata. Memang biasanya inilah yang hilang dalam
genre action: jawaban atas pertanyaan
‘so what?’.

 

***

 

…to conclude?

            Sekali lagi,
pada intinya sebuah perspektif multiangular mengobservasi RE3 Extinction. Di satu sisi saya terhibur dengan aksi yang sangat
baik dan ketegangan yang menggugah. Di sisi yang lain saya mengharapkan sesuatu
yang lebih dari suatu film – sebuah pemaknaan – sesuatu yang saya rasa absen
dari projeksi seluloid sinema RE3
Extinction
. Namun ini, sekali lagi, bukanlah sebuah tumbukan yang harus
diperbandingkan. Saya rasa sutradara penyuka splendor seperti Quentin Tarantino akan memprotes jika tiap filmnya
harus memberi makna seperti film documenter, dan di sisi yang lain pun tidak
mungkin menyuruh National Geographic untuk memproduksi film-film action seperti Die Hard ataupun Kill Bill.
The Matrix mungkin menjadi sesuatu
yang menjembatani keduanya. Wisely
speaking,
tidak ada satupun yang lebih bagus dari yang lain. RE3 Extinction would do just fine as a movie. Silakan nikmati desingan pistol dari
para survivor Biohazard, betapa
memanjakannya jika memiliki komputer berfitur super-canggih dengan akses
satelit dan kecerdasan buatan, dan segala macam ledakan dan aksi baku hantam. Flame cloud, spoilingly speaking, is the best one in the movie, I recommend.
Selamat terhibur oleh (akhirnya!) sebuah sinetron (bukan sinema elektronik,
melainkan tayangan cerita audiovisual dengan tujuan menghibur) dengan kualitas
yang sangat baik, walaupun secara personal saya akan menutup tulisan ini dengan
wantian bahwa jangan harapkan kesan emosi-sentimentil yang mendalam akan muncul
setelah lampu di teater dinyalakan dan orang-orang berdiri dari jok-jok beludru
bertabur popcorn tumpah, menggeliat,
dan mulai, dalam gaung obrolan mereka dengan orang yang berjalan di sebelah
mereka, berduyun menuju pintu bertanda EXIT hijau, berdesakan maju perlahan
keluar dari keremangan apak yang penuh freon AC menuju atrium mal yang,
padahal, biasanya tidak kalah sesak.

 

***

faith: archsin (in search of happiness #1)

October 15th, 2007 by trenycedragon

My hands, they’re small I know

But they’re not yours, they are my own,

And, I’m never broken

—“Hands”,
Jewel—

 

 

 

Pembicaraan ini akan menjadi tentang tiga hal: pertama,
mari mendistorsi sedikit lagu penuh harapan Jewel yang berjudul “Hands”. Kedua,
jika atmosfer masih kental dengan sisa-sisa wangi opor ayam dan ketupat
lebaran, maka aftermath stereotip
‘saling bermaafan’ masih bergaung pula. Mari bicarakan itu dalam neuronic rendezvous ini. Ketiga,
pembicaraan ini akan memasuki ranah sentimentalisme. Sedikit saja, seperti a shot of Espresso single: namun rasa kuat yang tertinggal di mulut setelah
pembicaraan tentang sentimentalisme, walau dalam porsi sedikit, cukup membuat eneg. Sehingga, percayalah, enough is enough; distorsi, ‘saling
memaafkan’, dan sentimentalisme adalah sebuah kombinasi yang cukup iblis
sehingga pedas ala Jabanero-nya mengingatkan Anda pada rasa pedas-pekat-apak –
pasti Anda ingin hindari. Percayalah.

 

***

 

Pernahkah Anda mengenal sesosok makhluk yang lebih
jahat dari Iblis? Rasanya Iblis merupakan konkretisasi dari sisi hitam ide
dualistik ‘Gelap vs Terang’ yang secara arketipikal inheren dalam kalbu
manusia. Iblis adalah teman lama setiap manusia; sesuatu yang, bizarrely, secara konsensus diterima
sebagai wujud kejahatan.

Namun, pada hakikatnya, pernahkan iblis di-break down menuju sebuah bentuk yang
lebih abstracted (tersarikan)?
‘Iblis’ adalah sebuah konsep yang sangatlah baur. Seolah-olah, ada tiga entitas
yang berbeda: manusia, sebagai subjek; keburukan, sebagai antitesis dari
kebaikan; dan Iblis, sebagai personifikasi dari keburukan. Sebutlah ini
dekonstruktif atau apalah, namun pertanyaan ontologis terhadap pandangan ini
perlu dilontarkan: benarkah seperti itu? Benarkah paradigma bahwa manusia
adalah spektator yang berada di luar sirkumferens eternal-Ragnarok Baik vs. Buruk seperti yang dikonsepsikan dalam
pengejawantahan Iblis sebagai sang Buruk? Jika elemen ‘Baik’ diwakili oleh the Holy Lord (sebut: Tuhan, tapi saya
tidak mau terlalu religijargonistik) dan elemen ‘Buruk’ diwakili oleh Iblis,
benarkah manusia hanya diombang-ambingi di antara dua gravitasi yang berseteru
ini?

Tidakkah konseptualisme tidak nyata? Bergerak dari
premis bahwa kenyataan adalah eksistensi alih-alih konsep dogmatik/kanonik,
maka paradigma ‘sebagai spektator’ seperti ini tentulah goyah. Bergerak dari
kenyataan yaitu eksistensi manusia, maka apapun atribut yang ada dalam
konstelasi hidup, dualistik maupun tidak, selalu berporos pada manusia. Begitu
pula dengan atribut ‘baik’ dan ‘buruk’ – mereka hanyalah kutub-kutub ekstrem
(putih vs. hitam) yang mempunyai monochromatic
hue range
(abu-abu) sangat luas. Dan di range
itulah eksistensi manusia berada. Maka konsep bahwa ‘keburukan/kejahatan’ =
‘Iblis’ adalah sebuah puitisasi yang a
little too metaphoric
, karena toh keburukan atau apapun itu, semua adalah
bentukan dari ekstremitas manusia.

 

Menghilangkan kebauran/keabstrakan/ketiadabentukan
Iblis dan mengeksistensikan konsep ‘jahat’ pada entitas bernama manusia,
pertanyaan ‘siapakah yang lebih jahat dari iblis?’ dapat dengan mudah, trivia-quiz-jovial, dikonkretisasi: manusia!

Gerak spektrum gelap dalam monokrom manusia adalah
mutlak dan dominan. Mengapa? Bukankah, seperti dalam hukum kartu Clow yang dilukis
Clamp dalam Cardcaptor Sakura, gelap
dihapuskan oleh terang? Puitis. Derapkan selop-selop Kartini, namun stanza
prosaik ini tidaklah realistik bahkan dalam sense
yang paling dasar sekalipun. Dominansi malam dalam spektrum abu-abu bijih nyawa
makhluk bernama manusia tumbuh dari selfishness
gen – sebuah daya yang secara dasar sudah terprogram dalam fisiologi psikis
manusia. Gen yang selalu akan berpikir ‘lestarikan dulu diri sendiri agar tidak
extinct’ akan secara mutlak
mendeprioritaskan set of genes yang
lain, tentu saja. Jika Shinichi Kudo bertanya, di bawah guyuran hujan

New York

dengan gurat somber
pada wajahnya yang animik, ‘manusia perlu alasan untuk membunuh orang lain,
namun untuk berbuat baik, perlukan alasan?’, maka mungkin Gosho perlu me-recheck teori genetika

Darwin

, lebih jauh lagi pada
studipolaperilaku gen Richard Brodie. Reality
check?
(sebuah frase sarkastis yang suka sekali saya lontarkan pada puncak
sarkasme sebuah speech debat; entah
sebuah kebiasaan ‘baik’ ataupun ‘tidak’, enhtah shade ekstrem hitam atau hanya abu-abu tua pada range monokromatik saya).

Mari masuk ke prong
pertama dari tiga yang saya janjikan di awal tulisan. Simaklah chorus lagu “Hands” (Jewel) yang saya
kuotasi di awal tulisan. Sebetulnya, jika menelaah lagu ini secara holistik,
kesan sarkastis sebetulnya jauh dari horizon lirik yang kita lihat/dengar.
Soalnya, dalam lagu yang cukup gospelistik ini Jewel bercerita tentang kekuatan
yang selalu ada di balik ‘small hands
kita, walau didera cobaan. Namun, jika fokus ditumpahkan pada chorus-nya, maka fenomena selanjutnya
yang mendorong mengapa judul tulisan ini adalah ‘Faith: Sin of the Archdevil’
akan terkuak.

 

Chorus “Hands” bercerita tentang bagaimana tangan-tangan
kecil (yang notabene tanpa-kekuatan, tentu saja) adalah ‘milik saya’ (sehingga
saya bisa berusaha sendiri, terima kasih, tidak usah bergantung pada so-called-suspectedly-hypocritical
‘bantuan dari Anda’), dan, jika saya tidak pernah bergantung pada tangan Anda
dan mengandalkan tangan saya yang kecil saja, maka saya tidak akan pernah retak
dan terbelah seperti kerak lempeng yang teretas gempa pra-tsunami.

Pesan ini, walau terdistorsi (disebut demikian karena
kesan ironis tentang ‘aloneness
bertentangan dengan spirit ‘soothing,
no-need-to-worry
kinda thing
yang ingin disampaikan Jewel), adalah pesan yang sangat relevan dengan konteks
realistik melihat analisis sebelumnya mengenai betapa manusia memiliki
dominansi egosentrisme yang mendeprioritaskan ‘keeping other people’s heart unbroken’. Untuk itu, sebuah dosa yang
besarlah – karena itu sangat tidak dianjurkan – bagi makhluk berhati untuk
menitipkannya pada manusia, yang akan menganggapnya tidak penting dan
melihatnya berakhir jatuh berkeping karena kurang penting dibanding atribut
individu mereka sendiri. Penitipan ‘hati’ itu, sebuah verba berjudul ‘faith’ , forbidden. Setidaknya bagi kewarasan yang mempunyai tujuan ‘I’m never broken’. Saya duduk di kafe
dan memesan latté bersama Jewel –
kami berada di bench yang, walau
bertangan kecil, tetap berangkat melintasi benua Galbadia dan hidup di solitary island.

 

Prong kedua berputar di sekitar spirit ‘ayo mengumandangkan
minalaidinwalfaidzin’ in tribute to
vorteks tradisi lebaranistik (sesuatu yang terkutuk, tentu saja, seperti yang
saya katakan dalam SMS lebaran yang saya kirim atas nama buncahan pulsa,
melankoli makhluk sosial, dan kekosongan waktu). Ayo meminta maaf, bukankah
itulah roh dari festival Aid-al-Fitr?

Redundan, tidakkah? Sebab, toh pada intinya, dengan
dominansi selfishness pada psikologi
dasar manusia yang inevitable
sehingga menyebabkan jiwa-jiwa tanpa-memercayai-orang-lain yang hidup di sebuah
Island of Solitude, bukankah
luka-luka dan hancuran-hancuran yang terjadi di masa lalu tidak kemudian ada mend-nya? Bee Gees menyenandungkan
pertanyaan ‘how can you mend a broken
heart?
’ yang sepertinya (dicoba) dijawab oleh Indecent Obsession, yang
mengenal seseorang yang ‘really know how
to start fixing a broken heart
’. Agak terlalu klise, tidakkah, jika
seperangkat ‘peranti emosional’ dapat kemudian menyatukan sebuah patung fragil
bernama hati yang terfragmentasi (difragmentasi) oleh sebuah spirit mutilatif,
baik on consciousness’ cue maupun
tidak, di masa lalu. Saya tidak menafikan kenaifan Daoming Zi, Meteor Garden,
yang terkenal dengan perkataan ‘jika ada maaf, buat apa ada polisi’, namun,
sang tuan muda bodoh, yang saat itu masih ‘berkepala burung’, memiliki poin
yang valid.

Toh bagaimanapun, sebagai lip service, ataupun hipokrisi ala coklat putih, tampaknya sebuah
spirit redundan bernama ‘meminta maaf’ akan terus ter-flourish. Dalam HBO’s Addicted (yang kemudian muncul dalam talk show Oprah Winfrey Show), seorang
mantan pecandu bercerita bahwa biasanya dalam kebohongan orang, saking hebatnya
manipulasi kebohongan tersebut, sehingga bahkan si pelakon bohong pun percaya
dengan kebohongan itu, dan sebuah fiksi menjelma menjadi realitas baru. Hal ini
akan mengabutkan kebenaran dari yang dikatakan Drew Barrymore: “Masa lalu
seringkali pahit dan penuh kehancuran, namun merekalah yang membuat siapa
dirimu hari ini.” Inilah yang semoga tidak berhasil dikikis oleh si tradisi
redundan ‘meminta maaf’: kebenaran bahwa a
shattered heart
tidaklah me-regroup
bak batalyon yang dirawat Florence Nightingale. Dan tidak ada puitisasi bahwa
ada seseorang seperti Florence Nightingale yang mampu tend to those kind of wounds. Yang ada hanyalah bukti historis yang
akan membangun siapa kita di masa sekarang – pil pahit kenyataan yang sering
diilusikan para pemimpi romantis di balik delusi ‘hati sembuh yang memaafkan’.

 

***

 

Prong ketiga sangatlah menarik: sentimentalisme. Seperti
yang saya telah wanti-wanti di awal tulisan: sentimentalisme apak. Tang-nya terasa, tertinggal dan
menari-tango di olfaktorial cukup lama dan cukup pahit-pedas, mengganggu
seperti cabai busuk yang berlumur segala bau kotoran. Saya berbicara hati yang
rusak, broken heart, dan sebagainya.
Namun, untuk meredakan sedikit dari gravitasi hebat

medan

jurang sentimentalisme romansa, tentu
saja saya tidak membicarakan konteks sesempit dan se-usia-13-tahun yang bisa
diungkapkan Cinta Laura Kiehl dalam sinetron Cinderella: broken heart pacar-perpacaran. Buang. Seperti sebuah risk-analysis seorang agen perusahaan
asuransi, yang saya lakukan adalah melihat sebuah verba bernama ‘faith’ yang, menurut saya, adalah sebuah
ekstremitas ‘buruk’ yang tidak layak dituju dalam sebangun sosok bernama
‘manusia’. Saya, dari kafe di mana saya memesan latté sebelumnya (mood
saya rasanya mengatakan segelas frappuccino
vanila lebih pantas ditukar dengan beberapa uang koin dan beberapa uang kertas
di kafe itu), berderap pada konklusi ‘I’m
never broken
’-nya Jewel.

Lebih nyata lagi, tak hanya sekedar analisis namun
kumpulkanlah statistik tentang berapa banyak manusia-manusia yang dapat
dipercaya. Tidakkah mereka menari dalam numeral yang kosong? Inilah teriakan
LANTANG saya dalam poin sentimentalisme: personal
experience
. Dalam kepercayaan yang semula ‘ada’, lalu luruh menjadi
serpih-serpih terurai yang menggerus arteri dan vena: sebuah krusifiks
paku-paku kepedihan. Tidakkah statistik bukti (walau level personal)? Entahlah,
generalisasi adalah dosa, sehingga saya hindari, namun begitu pula faith, sehingga juga saya hindari. Fair
enough
.

Dalam pencarian pencapaian-nirwana derap ‘I’m never broken’, sebuah koefisien
sosial yang (ternyata) hanya redundansi belaka kecuali pada konteks lip-service sosialnya rasanya hanya
menjadi subliman gas tipis yang memukul windshield
– terabas saja dengan wiper, when
appropriate
.

 

Dan, ironi terakhir yang tersaji di atas pinggan
adalah, jika Anda awas, beberapa kata ‘percayalah’ yang Anda baca di
paragraf-paragraf awal. Saya manusia, for
the record
. Namun, saya meng-egg
kepercayaan terhadap saya? Jika tulisan ini adalah sebuah frase, maka tulisan
ini adalah pengejawantahan contoh baik sebuah oksimoron. Atau inkonsistensi,
untuk mencapai sebuah jargon yang lebih debatistik.

Sebuah tes terakhir: percaya?

 

***